Menu Content/Inhalt
Home arrow Perjanjian Perdagangan (WTO, FTA, dll) arrow Isu-isu tarif dalam perundingan Akses Pasar bagi Produk-produk Non-Pertanian (NAMA)
Isu-isu tarif dalam perundingan Akses Pasar bagi Produk-produk Non-Pertanian (NAMA) PDF Print E-mail
Friday, 25 February 2011

 

[Kanaga Raja-Jenewa] Kelompok WTO yang merundingkan Akses Pasar Produk Non Pertanian (NAMA) menggelar diskusi selama seminggu pada tanggal 7-11 Februari dan antara lain isu-isu tariff yang telah berbulan-bulan berada dalam teks draf modalitas-modalitas dibicarakan untuk pertama kalinya.

Setelah penutupan sepekan perundingan NAMA, saat pertemuan singkat dengan media pada tanggal 11 Februari, Ketua sidang, Luzius Wasescha perwakilan dari Swiss menyatakan pada para jurnalis bahwa hal terpenting selama pekan tersebut adalah pembacaan terhadap seluruh teks draf NAMA (TN/MA/W/103/Rev. 3) di ruang D di WTO (biasanya dihadiri oleh sekitar 55 delegasi).

Menurut pejabat-pejabat WTO, kelompok yang berunding mempertimbangkan isu-isu tarif dalam teks draf NAMA, tetapi tidak membicarakan isu-isu sektoral (penghapusan atau hampir penghapusan total tariff pada 14 sektor yang terdaftar dalam lampiran 7 teks draf modalitas-modalitas).  

Ketua sidang menyampaikan pada negara-negara anggota bahwa pokok bahasan krusial ini perlu dibicarakan pada tingkat selanjutnya dan oleh karena itu pada teks tetap tercantum dalam tanda kurung (belum disepakati).

Menurut pejabat-pejabat WTO, Argentina, Venezuela dan – beberapa hal turut juga didukung Afrika Selatan kembali menyuarakan penolakan mereka atas formula-formula serta fleksibilitas-fleksibilitas (bagian 5,6, dan 7 dalam draft teks NAMA) .

Argentina menunjukan “tingkat koefisiensi yang tidak bisa diterima” dan teks NAMA tidak berimbang dengan teks draf pertanian, artinya tidak menghormati paragraf 24 Deklarasi Hongkong.  

[Paragrap 24 Deklarasi pertemuan tingkat menteri di Hongkong tahun 2005 menyatakan “ kami (para menteri) mengakui pentingnya memajukan tujuan-tujuan pembangunan pada putaran ini melalui peningkatan akses pertanian dan NAMA bagi negara-negara berkembang. Untuk tujuan tersebut kami menginstruksikan para negosiator kami untuk memastikan bahwa tingkat ambisi yang sama tinggi untuk akses pasar bagi pertanian dan produk-produk Non Pertanian. Ambisi ini perlu dicapai melalui langkah yang seimbang dan sebanding berdasarkan prinsip-prinsip dalam skema Perlakuan Khusus dan Berbeda”].

Menurut pejabat-pejabat WTO, Amerika Serikat berpandangan bahwa keseluruhan ambisi terhadap tarif tersebut harus tersampaikan.

Venezuela mengatakan bahwa draf teks tidak memenuhi kepentingannya. Venezuela meminta perlakuan khusus yang diperuntukan bagi negara-negara ekonomi rentan dan kecil disertai target rata-rata dan pemotongan minimal.  

Menurut para pejabat WTO, Afrika Selatan menyatakan bahwa konsensus atas permintaan Afrika Selatan untuk perlakukan khusus belum tercapai. Afrika Selatan berharap agar permintaan mereka tersebut didiskusikan lebih lanjut.  

India, Ekuador, Brasil mendukung usulan khusus Argentina, Venezuela dan Afrika Selatan, kata para pejabat WTO.

Thailand dan Hongkong-Cina mengungkapkan pentingnya untuk bertindak hati-hati dan tidak menggangu sulitnya pencapaian keseimbangan. Brasil (yang telah mendukung usulan khusus Argentina, Venezuela dan Afrika Selatan) juga setuju dengan Thailand dalam hal bertindak secara hati-hati.  

Para pejabat WTO mengatakan bahwa tidak ada komentar tentang isu Perlakuan Khusus bagi negara kecil, ekonomi rentan tampaknya menjadi indikasi bahwa teks tersebut kini telah “stabil”.

Amerika serikat dan Erupa menyampaikan keresahan mereka terhadap pembicaraan ulang hal-hal yang telah disepakati tentang isu fleksibilitas dengan cakupan ikatan yag longgar (paragraf 8) bagi anggota-anggota dari negara-negara berkembang. Pernyataan tersebut muncul setelah Kenya menyatakan perlu penjelasan lebih lanjut tentang isu tersebut.

Taipei Cina dan Ekuador kembali menyerukan perlakuan khusus bagi negara-negara yang baru bergabung. Seruan ini mendesak Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menyuarakan “kepedulian” .

Menurut para pejabat WTO, mengenai permasalahan pengikisan prefaransi (paragraph 28 dan 30) Turki, Banglades dan Sri Lanka menilai bahwa kepentingan mereka tidak terpenuhi dan solusi-solusi yang diusulkan tidak berimbang dan jauh dari memuaskan.  

Beberapa Negara-negara anggota baik yang berasal dari negara maju maupun negara-negara berkembang menyoroti bahaya penolakan lemahnya keseimbangan yang dicapai seraya mencari solusi terhadap masalah ini.

Sementara, diskusi-diskusi saat itu diselenggarakan dalam format-format dan kelompok-kelompok yang berbeda-beda (Ruang D dan “ pertemuan-pertemuan para rekanan ketua sidang”).

Masih ada pertentangan terhadap usulan mekanisme horizontal untuk mengatasi perselisihan NTB (non tariff barrier – penghalang non tarif) terutama karena perbedaan posisi dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta usulan program kerja untuk barang-barang yang harus diproduksi ulang, skeptisme India dan beberapa negara terus menguat menyikapi usulan yang diusung oleh Amerika Serikat, Swiss dan Jepang.

Menurut ketua sidang, hal terpenting adalah pembacaan terhadap seluruh teks (Rev. 3 teks draf modalitas-modalitas) di Ruang D pada WTO. Tidak ada yang menentang wilayah-wilayah yang dianggap telah stabil berarti stabil, katanya.

Para negosiator sedang memperinci rancangan (teks) tentang Mekanisme Horisontal, tutur Ketua kepada para jurnalis. “ Semoga, Kita akan menyelesaikan teks tersebut awal pekan depan, supaya kita bisa melangkah.” 

Menanggapi isu umum tentang Transparansi, Ketua sidang mengatakan bahwa lima negara-negara anggota tengah mempersiapkan sebuah teks, yang menurutnya masih terdapat pendekatan-pendekatan yang berlain namum bisa menjadi landasan untuk kerja selanjutnya.

Sama halnya dengan gedung baru, konstruksi (tahap akhir) sedang berlangsung namun belum selesai,” kata ketua sidang ketika menjawab negara-negara anggota di tahap mana.

Menanggapi prakarsa-prakarsa sektoral, ketua sidang mengatakan bahwa isu ini belum siap untuk dibahas secara multilateral. (Saat ini prakarsa-prakarsa sektoral didiskusikan secara bilateral).

Ketika ditanya berapa banyak waktu yang diperlukan agar negosiasi-negosiasi bisa mencapai kemajuan, ketua sidang menjawab masih “banyak waktu “ agar hasilnya bisa tercapai saat paskah tahun ini, jika orang-orang memang menginginkan.

Ia mengumumkan pekan perundingan NAMA berikutnya pertengahan Maret mendatang.

Dimuat dalam SUNS #7088, Selasa 15 Februari 2011


 
< Prev   Next >