Menu Content/Inhalt
Home
Kemajuan yang tidak Merata dalam Capaian Tujuan Pembangunan Milenium PDF Print E-mail
Friday, 26 March 2010

[Kanaga Raja – Jenewa] Meski Sejumlah Negara telah mencapai keberhasilan besar dibanding negara-negara lain dalam hal memberantas kemiskinan absolut dan kelaparan, meningkatkan jumlah anak yang pergi ke sekolah,  kesehatan anak, sekaligus memperluas akses terhadap air bersih, kemajuan tersebut tidaklah merata. Tanpa usaha ekstra, banyak negara tampaknya tak dapat mencapai beberapa Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs).

Temuan utama tersebut merupakan laporan Sekretariat Jenderal PBB Ban Ki-moon kepada Dewan Umum PBB di New York, yang berjudul “ Keeping Promise (Memegang Janji)” 

Laporan Utama yang dikeluarkan pada 16 Mei tersebut akan digunakan sebagai dasar pertimbangan pemerintah terhadap sebuah dokumen yang berorentasi pada aksi yang disiapkan untuk Pertemuan Puncak Tujuan Pembangunan Milenium tanggal 20-22 September, yang mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan dan pelajaran yang dipetik sekaligus mengarisbawahi kesenjangan, tantangan dan kesempatan. Laporan tersebut juga menyampaikan rekomendasi-rekomendasi untuk melakukan tindakan-tindakan yang mendorong tercapainya Tujuan Pembangunan Millennium yang tinggal tersisa lima tahun ke depan hingga 2015.

 “Dengan hanya lima tahun lagi dari target 2015, prospek tercapainya Tujuan Pembangunan Millennium belumlah memadai karena jelas terlihat kurang komitmen” menurut Ban Ki-moon dalam laporan tersebut. “ Kegagalan tidak bisa diterima baik dari sudut moral maupun praktek. Jika kita gagal, bahaya-bahaya di dunia – ketidakstabilan, kekerasan, penyakit epidemik, memburuknya lingkungan, meningkatnya pertumbuhan populasi- akan berlipat ganda.”

Menurut laporan tersebut, sejumlah negara telah mencapai kesuksesan besar dalam memerangi kemiskinan absolut, kelaparan, meningkatkan partisipasi sekolah serta kesehatan anak, memperluas akses terhadap air bersih serta akses bagi pengobatan HIV dan menangani malaria, tuberkulosis serta penyakit-penyakit daerah tropis yang selama ini terabaikan.

Sub-Sahara Afrika misalnya, telah mencapai kemajuan besar dalam bidang kesehatan anak dan pendaftaran anak pendidikan dasar selama dua dasawarsa terakhir. Sub-Sahara Afrika berhasil mengurangi kematian cacar air secara drastis selama kurun waktu 1999 hingga 2004.

Namun, kemajuan tersebut tidaklah merata dan tanpa usaha ekstra banyak negara tampaknya tak akan mencapai beberapa Tujuan Pembangunan Millenium. Tantangan tersebut paling sulit bagi negara miskin, negara berkembang yang letaknya terkunci oleh daratan Negara lain, pulau-pulau kecil di negara berkembang dan negara yang rentan terhadap bencana alam dan seringkali terperangkap dalam kekerasan bersenjata.

Laporan mengatakan bahwa kemajuan dalam pengurangan kemiskinan tidak merata dan kini mengancam TPM/Tujuan Pembangunan Millennium tentang pengentasan kemiskinan absolut dan kelaparan, dan mencapai pekerjaan yang utuh dan produktif serta pekerjaan yang layak bagi semua orang).

Berdasarkan yang sering disebutkan Bank Dunia “satu Dolar sehari” sebagai garis batas kemiskinan internasional dan pada tahun 2008 direvisi menjadi 1,25 Dolar berdasarkan harga tahun 2005, sementara di tahun 2005 juga masih ada 1,4 milyar orang hidup dalam kemiskinan absolut, turun dari 1,8 milyar di tahun 1990.  “Orang miskin dengan penghasilan satu Dollar perhari” meningkat menjadi 92 juta di Sub Sahara Afrika dan 8 juta di Asia Barat selama kurun waktu 1990 hingga 2005.

Terlepas dari tingkat kemajuan yang dicapai, jumlah orang kelaparan naik sejak tahun 1995 dan proporsi orang lapar dalam populasi global telah meningkat mulai dari 2004-2006. Lebih dari semilyar orang lapar, dan lebih dari 2 milyar orang kekurangan nutrisi mikro, 129 juta anak-anak dengan berat badan kurang dan 195 juta anak berusia dibawah 5 tahun tak bertambah tinggi.

Orang lapar di dunia melonjak dari 842 juta di tahun 1990-1992 menjadi 873 juta di tahun 2004-2006 dan berada tingkat tertinggi di tahun 2009, mencapai 1,02 milyar karena berkurangnya akses terhadap makanan sebagai dampak dari naiknya harga makanan dan krisis ekonomi dan keuangan global, yang menyebabkan rendahnya pendapatan dan tingginya pengangguran. 

Target menyediakan pekerjaan yang layak untuk semua, tidak jua terpenuhi. Pertumbuhan ekonomi di banyak negara selama beberapa dasawarsa terakhir tidak berbuah pada pertumbuhan lapangan pekerjaan, lebih tepat menjadi istilah “pertumbuhan pengangguran”.

Di tahun 2008 diperkirakan sekitar 633 juta pekerja (21,2 persen dari keseluruhan pekerja dunia) hidup dengan 1,25 dolar perhari per anggota keluarga. Krisis ekonomi dan keuangan meningkatkan jumlah orang yang hidup dengan 1,25 dolar perhari menjadi sebesar 215 juta, termasuk 100 juta orang di Asia Tenggara dan 28 juta di Sub-Sahara Afrika tahun 2009. Krisis ini diperkirakan menyebabkan 7 persen pekerja terancam jatuh dalam garis kemiskinan di tahun 2008 dan 2009.

Menurut laporan, Diperlukan terciptanya lebih dari 300 juta pekerjaan baru untuk lima belas tahun ke depan untuk dapat kembali ke tingkat angka pengangguran sebelum krisis. 

Laporan mengatakan ada kemajuan luar biasa dalam pencapaian pendidikan dasar di negara-negara berkembang, banyak negara telah mencapai melewati ambang 90 persen pendaftaran pendidikan dasar.  TPM nomor 2, memastikan bahwa pada tahun 2015 anak-anak dimanapun berada, baik laki-laki dan perempuan akan dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Pendaftaran pada pendidikan dasar telah meningkat pesat di Sub Sahara Afrika, dari 58 persen di tahun 2000 menjadi 74 persen di tahun 2007.

Sekitar 126 juta anak masih menjalankan pekerjaan berbahaya. Lebih dari 72 juta anak usia pendidikan dasar di seluruh dunia, sekitar setengah dari mereka berasal dari Sub Sahara Afrika, tidak mengenyam pendidikan. Lebih lagi, tingkat putus sekolah tetap tinggi di banyak negara sehingga pencapaian 100 persen lulus pendidikan dasar tetaplah menjadi tantangan.

Berlanjutnya ketidaksetaraan menjadi hambatan dalam mencapai pendidikan dasar secara universal. 20 persen anak-anak yang berasal dari rumah tangga termiskin merupakan jawaban terjadinya lebih dari 40 persen dari seluruh anak tak bersekolah di negara-negara berkembang.  Di sebagian besar negara berkembang, 20 persen anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang sejahtera secara universal telah mengenyam pendidikan universitas, sementara bagi yang miskin masih sangat mustahil.

Laporan tersebut menekankan bahwa perbaikan terhadap ketidaksetaraan jender masih menjadi kendala dimana-mana, dengan implikasi bahwa ketidaksetaraan jender bersinggungan dengan beragam isu lain. TPM/Tujuan Pembangunan Millenium nomor 3 tentang penghapusan disparitas jender di pendidikan dasar dan menengah, menjadi lebih baik di tahun 2005, dan di seluruh tingkat pendidikan pada tahun 2015. Akar masalah kekurangan dan tindakan penindasan terletak pada perilaku sosial, norma dan struktur kekuasaan seperti yang telah diidentifikasi pada program tindakan Beijing (Beijing Platform for Action).

Misalnya, Laporan merujuk pada kursi parlemen nasional yang dijabat oleh perempuan bergerak sangat lambat, kira-kira 18 persen di bulan Januari 2009. Pada saat ini, rasanya perlu 40 tahun lagi negara berkembang untuk mencapai 40 dan 60 persen kursi parlemen bagi perempuan.

Ketidaksetaraan jender dalam pendaftaran pendidikan dasar telah berkurang dalam dasawarsa terakhir meski berjalan secara lamban, dan di beberapa daerah, kesenjangan jender semakin menajam.

Menurut laporan, ada kemajuan signifikan di beberapa sektor yang terkait dengan kesehatan dalam TPM/Tujuan pembangunan millennium nomor 4, 5 dan 6 berturut-turut tentang penurunan angka kematian bayi, peningkatan kesehatan ibu serta pengobatan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain.

Kematian anak balita telah berkurang dari 12,5 persen pertahun (1990) hingga 8,8 juta (2008). Jumlah orang di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah yang menerima terapi antiretroviral untuk HIV meningkat 10 kali lipat dalam lima tahun (2003-2008) dan telah terjadi kemajuan signifikan dalam mengurangi kematian akibat cacar dan intervensi untuk mengontrol malaria dan tuberkulosis. Lebih dari 500 juta penderita penyakit-penyakit negara tropis setiap tahun mendapat perawatan

Meski demikian, laporan juga memperingatkan dari kecenderungan tahun ini, banyak negara tidak dapat mencapai TPM di bidang kesehatan sampai dengan tahun 2015. Tingkat angka kematian anak di negara berkembang menurun dari 99 kematian per 1000 kelahiran di tahun 1990 hingga 72 di tahun 2008. Jauh dari target berkurang 2/3 (target mencapai 33 kematian per 1000 kelahiran).

Orang  yang terinfeksi HIV tahun 2008 berkisar 2,7 juta, menurun 30 persen dari angka tertinggi 3,5 juta di tahun 1996. Sementara proporsi orang yang mendapatkan terapi antiretroviral meningkat, semula kurang dari 5 persen dari keseluruhan penderita yang membutuhkan terapi antirtroviral di awal dasawarsa ini hingga 42 persen di tahun 2008, dan perempuan yang mendapatkan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dari meningkat dari 15 persen di tahun 2005 menjadi 45 persen di tahun 2008.

Kira-kira 250 juta peristiwa Malaria terjadi di tahun 2008 sehingga menyebabkan 850 ribu kematian; 90 persen kematian tersebut terjadi di Afrika, sebagian besar terhadap usia balita. Masih diperlukan 200 juta kelambu dari 340 juta dari kebutuhan universal dengan asumsi kebutuhan satu kelambu untuk dua orang, dikirim ke negara Afrika selama periode 2004-2009.

Laporan juga menemukan bahwa sedikit sekali kemajuan yang dicapai dalam menurunkan angka kematian ibu. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi tetap memperihatinkan, masih banyak perempuan beresiko tinggi. Kelahiran yang didampingi oleh ahli kesehatan di wilayah-wilayah berkembang telah meningkat sejak tahun 1990 dari 53 persen di tahun 1990 hingga 61 persen di tahun 2007, namun hanya ada kemajuan kecil dalam mengurangi angka kematian; dari 480 kematian per 100,000 kelahiran di tahun 1990 turun menjadi 450 di tahun 2005.

Dengan tingkat seperti itu, tampaknya mencapai angka kematian ibu 120 per 100,000 kelahiran di tahun 2015 tidak akan tercapai.

Laporan menegaskan “Perluasan investasi pada program kesehatan publik, pembiayaan yang memadai untuk kesehatan ibu, terutama ditujukan untuk memastikan keselamatan melahirkan menjadi hal yang mendesak.

Keberlangsungan lingkungan juga hanya mencapai kemajuan kecil, TPM nomor 7 mengenai keberlangsungan lingkungan. Beberapa kemajuan berhasil tercapai menuju target setengah dari proporsi orang yang hidup tanpa air bersih, tapi proporsi orang tanpa sanitasi yang baik menurun hingga 8 persen antara tahun 1990 dan 2006.

Tujuan meningkatkan kualitas hidup setidaknya 100 juta penghuni lingkungan kumuh terbukti terlalu ambisus dari yang diperlukan mengingat meningkatnya kecenderungan jumlah penghuni perkampungan kumuh.

Untuk isu lingkungan, tingkat emisi karbon dioksida jauh lebih tinggi selama tahun 1995-2004 dibandingkan selama periode 1970-1994, dan kecenderungan ini tidak berubah.

Sementara tingkat pengundulan hutan telah meningkat sekitar 13 juta hektar dari keseluruhan hutan dunia, 6 juta diantaranya terjadi di hutan primer. Kerugian ini hanya sebagian yang dilakukan penanaman kembali. Hasilnya diseluruh dunia, kehilangan sekitar 7 juta hektar tutupan hutan setiap tahun.

Laporan juga menyebutkan tentang tidak terpenuhinya target pengurangan kerusakan keragaman hayati hingga tahun 2010. Laporan terakhir yang diserahkan kepada konferensi para pihak dalam konvensi keragaman hayati atau Convention on Biodversity/CBD, banyak pemerintahan mengakui mereka tidak dapat memenuhi target di tingkat nasional. IUCN (International union for the conservation nature) melaporkan bahwa hampir 17 ribu spesies tanaman dan binatang terancam punah.

Mengenai perluasan dan penguatan kemitraan internasional yang merupakan TPM nomor 8,  laporan ini menekankan kebutuhan untuk mempercepat komitmen tujuan pembangunan global nomor 8 bukan sekedar hal yang mendesak tetapi darurat.

Laporan menemukan bahwa meski bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance/ODA) mencapai tingkat tertinggi di tahun 2008, tetap terdapat kesenjangan dalam memenuhi komitmen saat ini dan jangka panjang. Kelompok Gleneagles-G8 (kelompok 8 negara maju yang bertemu di kota Gleneagles) di tahun 2010 menargetkan sekitar 154 milyar dolar saat ini dan dibutuhkan 35 milyar aliran tambahan untuk mencapai target ini. Afrika memerlukan aliran tambahan sekitar 20 milyar dolar untuk bantuan pembangunan resmi di tahun 2010 untuk mencapai target Glenagles senilai 63 milyar untuk kawasan di tahun 2010.

Tahun 2007, Bantuan Pembangunan Resmi bagi negara miskin setara dengan 0,09 persen dari pendapatan kotor nasional negara-negara dalam Organisasi untuk kerjasama ekonomi dan pembangunan (OECD) dengan kurang dari setengah negara-negara Komite Bantuan pembangunan (DAC/Development Assitance Committee) memenuhi 0,15 hingga 0,20 persen target untuk membantu negara-negara miskin.

Distribusi bantuan pembangunan tidaklah simetris. Meski pembagian aliran Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) dialokasikan untuk negara-negara berkembang antara tahun 2000 hingga tahun 2007 bisa dikatakan meningkat, Sub Sahara Afrika terus menerus menjadi penerima bantuan pembangunan resmi terbesar, menerima lebih dari dua kali lipat dalam periode dolar saat ini, sebagian besar peningkatan Bantuan Resmi Pembangunan sejak tahun 2000  telah dibatasi bagi beberapa negara yang telah melewati konflik, termasuk Irak dan Afganistan.

Seperti yang telah digambarkan, menurut laporan, Putaran Doha gagal menjanjikan pembangunan sejati sebagaimana yang telah diniatkan. Termasuk pemberlakuan akses pasar untuk pertanian, industri dan ekspor jasa, terutama pada sektor yang menjadi kepentingan Negara-negara berkembang, pasokan jasa lintas batas/negara dan pergerakan tenaga kerja dan penghapusan subsidi pertanian yang mengganggu perdagangan.

Selanjutnya, laporan memaparkan bahwa negara-negara maju juga perlu menepati janji menghapuskan seluruh subsidi ekspor termasuk subsidi pertanian pada tahun 2013, yang masih menjadi penghalang perdagangan dan produksi pertanian di negara-negara berkembang.

Akses terhadap obat-obatan penting yang terjangkau masih memprihatinkan, terutama menyikapi merebaknya penyakit menular dan semakin dipersulit oleh berkembangnya infeksi jenis kuman yang resistant. Paket dasar pelayanan kesehatan yang penting perlu lebih diadaptasi bagi kepentingan lokal dan juga pencapaian target kesehatan yang lebih baik dalam TPM.

Laporan juga menggarisbawahi beberapa tantangan dan faktor-faktor mitigasi yang berpotensi menurunkan keberhasilan sekaligus menyebabkan kendala dalam mencapai tujuan pembangunan milenium, yakni, perubahan iklim, krisis ekonomi dan keuangan saat ini, serta resiko bencana alam yang secara global meningkat dan paling banya terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Laporan menemukan sejumlah pelajaran utama yang dipetik dari usaha global dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium selama hampir sepuluh tahun. Antara lain, yang terpenting adalah kepemilikan strategi pembangunan nasional. Kesuksesan negara mengupayakan kebijakan pragmatis dipadu dengan peningkatan kapasitas domestik. Kerjasama internasional harus sangat mendukung strategi pembangunan nasional dan upaya pembangunan kapasitas domestik.

Laporan menyatakan bahwa meski pembangunan ekonomi penting, namun belum cukup mencapai kemajuan. Proses pertumbuhan haruslah inklusif dan layak demi memaksimalkan penurunan kemiskinan dan memajukan tujuan-tujuan Pembangunan Milenium yang sukar dicapai karena ekonomi dan goncangan lain. Oleh karena itu, Negara-negara perlu menemukan kebijakan-kebijakan makroekonomi untuk mendukung pertumbuhan yang stabil di sektor yang lebih luas, misalnya dengan mendukung investasi publik di sektor strategis dan perlindungan sosial yang universal, untuk mencapai Tujuan Pembangunan Millenium.

Laporan juga merujuk kepada bantuan keuangan yang memadai, konsisten dan dapat diperkirakan serta lingkungan kebijakan yang koheren dan diprediksi, baik di tingkat nasional dan internasional sebagai faktor penting bagi pencapaian TPM. Bantuan keuangan internasional yang kurang memadai dan kurang dapat diperkiran menjadi hambatan utama.

Perluasan dan penguatan kemitraan menjadi kebutuhan mendesak demi memastikan kerangka kerja internasional yang mendukung penghapusan hutang, perdagangan, perpajakan, tekonologi dan mitigasi perubahan iklim dan adaptasi terhadap kemajuan umat manusia yang bertahan lama.

 

Diterjemahkan dari Development: A mixed picture on meeting the MDGs oleh Kanaga Raja, dalam  SUNS  no. 6886, 18 Maret  2010.

 
< Prev   Next >