Menu Content/Inhalt
Home
G77 dan China tetapkan prioritas, Prinsip Bersama dengan Tanggung jawab Berbeda Menjadi Pedoman PDF Print E-mail
Tuesday, 17 June 2014

[Mirza Alas-New York]  Kelompok 77 dan  China menegaskan bahwa prinsip umum tapi tanggungjawab berbeda (common but differentiated responsibilities-CBDR) harus  menjadi prinsip dalam pengembangan dan pelaksanaan tujuan pembangunan  berkelanjutan.

Sesi kesembilan Kelompok KerjaTerbuka (Open Working Group - OWG) di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDGs) berlangsung pada 3-5 Maret di markas PBB, New York. Ketua dari  OWG adalah Duta Besar Macharia Kamau dari Kenya dan Csaba Korosi dari Hongaria.

Negara-negara Anggota membahas laporan kemajuan dan fokus area yang  disediakan oleh Ketua OWG sebagai masukan untuk pengembangan SDGs.  

Isu kunci pertama untuk Kelompok 77 dan China (G77) adalah  mengenai prinsip umum tapi tanggung-jawab berbeda, yang terus-menerus disebut oleh kelompok ini dalam berbagai  pernyataan, laporan melalui semua diskusi dan telah juga terdapat dalam dokumen hasil Konferensi Rio+20: "The Future We Want". Kelompok ini  mengusulkan dimasukkannya CBDR sebagai prinsip yang berarti bahwa SDGs tidak boleh digunakan sebagai pembatasan tambahan atau beban pada negara-negara berkembang. Yang penting, prinsip ini  memerlukan komunitas donor  menghormati komitmen internasional khususnya yang berkaitan  dengan sumberdaya keuangan, transfer teknologi dan kapasitas.

Isu penting lainnya adalah cara pelaksanaan. G77 menekankan  bahwa OWG harus mengintegrasikan cara yang jelas dan nyata untuk pelaksanaan setiap tujuan yang  dibahas, serta elemen yang lebih nyata untuk tujuan tertentu. G77 ingin menggaris bawahi  pentingnya menghubungkan faktor-faktor internasional untuk meningkatkan kemitraan global, peran penting sarana pelaksanaan, bersama-sama dengan tindakan dan upaya yang  harus diambil oleh negara-negara di tingkat nasional. Pendekatan tiga komponen ini sangat penting karena perumusan tujuan terbaik di tingkat nasional tidak akan dapat dicapai kecuali faktor-faktor struktural, termasuk faktor-faktor internasional, ditangani. Demikian pula, negara-negara berkembang memerlukan kerjasama internasional di bidang keuangan, transfer teknologi dan pengembangan kapasitas jika mereka diharapkan untuk  mencapai SDGs.

G77 menunjukkan bahwa sejauh ini tidak ada tindakan nyata yang ditunjukkan dalam hal isu-isu sistem internasional, dan penciptaan lingkungan internasional yang kondusif, termasuk menyikapi perdagangan, utang, teknologi dan reformasi sistem keuangan internasional dan tata kelola ekonomi global. Isu-isu ini membutuhkan penjelasan lebih  lanjut. Secara keseluruhan, dorongan pada isu-isu sistem internasional perlu diperkuat.

Selain itu, G77 mencatat perlunya mencapai pola konsumsi dan produksi berkelanjutan sebagai agenda penting untuk pembangunan berkelanjutan. Pandangan ini  konsisten dengan tuntutan yang dibuat oleh para pemimpin politik lebih dari dua puluh tahun yang  lalu pada KTT (konferensi tingkat tinggi) Bumi 1992, di Agenda 21 sepuluh tahun kemudian dan KTT Rio +20 pada tahun 2012.

G77 menyoroti perlunya untuk memasukkan isu-isu yang tidak sepenuhnya tercermin dalam area utama atau yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Pencapaian ketahanan pangan dan bergerak menuju pertanian berkelanjutan,  termasuk peningkatan produksi pangan di negara-negara berkembang, adalah isu-isu penting untuk  dibahas dalam kerangka SDGs. Produksi pertanian di negara berkembang sebagian  besar melibatkan petani dengan kepemilikan lahan kecil dan pertanian keluarga untuk konsumsi sendiri.

Pertanian rakyat menyumbang sekitar 85% dari pertanian di dunia. Untuk  mendukung kelayakan ekonomi dari pertanian keluarga skala kecil dan mengurangi kerentanan mereka, maka tindakan kebijakan yang diperlukan untuk mendukungnya, terutama perempuan, masyarakat adat dan masyarakat yang tinggal dalam situasi rentan  terhadap kredit, pasar, kepemilikan lahan yang aman dan layanan lainnya.

G77 menekankan bahwa penggurunan, degradasi lahan dan kekeringan merupakan tiga pilar pembangunan berkelanjutan dan mewakili perhatian serius  bagi negara-negara berkembang. Mengatasi fenomena ini memungkinkan negara-negara  berkembang menghadapi beberapa tantangan kebijakan global.

G77 mengakui bahwa topik penting lain yang harus disertakan adalah migrasi. Migran adalah  relevan dengan semua negara asal, transit dan tujuan. Ini adalah isu-isu global, yang berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan struktural. Tantangan organisasi dan politik untuk mengatasi pendekatan yang bias dan kerja untuk memfasilitasi mobilitas yang tertib dan aman, mengakui bahwa mobilitas yang lebih besar tidak bisa dihindari dalam konteks meningkatnya  globalisasi.

G77 menunjukkan bahwa rata-rata 226 juta orang di seluruh dunia terkena dampak  bencana yang terkait dengan bencana alam setiap tahun. Sementara bahaya adalah alami, bencana dapat dicegah. Komunitas ilmiah telah menginformasikan bahwa penggerak risiko terkait dengan kebijakan dan praktik yang buruk dalam perencanaan tata guna lahan, tata  pemerintahan, urbanisasi, manajemen sumberdaya alam, pengelolaan ekosistem dan juga peningkatan tingkat kemiskinan. Harus diakui bahwa pemberantasan kemiskinan dan  promosi pembangunan berkelanjutan adalah cara paling pasti untuk  meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana.

G77 juga menekankan pentingnya budaya  yang ‘memungkinkan’  dan menggerakkan dari pembangunan berkelanjutan. Pendekatan pembangunan harus disesuaikan dengan kondisi nasional dan konteks lokal. Budaya juga mendorong pembangunan dalam sejumlah sektor budaya termasuk industri kreatif, wisata budaya dan warisan, baik berwujud dan tidak berwujud.

Lebih lanjut G77 menyatakan keprihatinan bahwa pemuda tidak boleh berada pada kondisi pengangguran dalam SDGs. Keterlibatan pemuda, yang jumlahnya signifikan di negara-negara berkembang, harus diakui secara keseluruhan dalam SDGs dan dipertimbangkan dalam banyak aspek seperti pendidikan dan pengembangan keterampilan, kewirausahaan dan inovasi, ICT, kesehatan, SCP dan keterlibatan mereka dalam pembuatan kebijakan. Pemberdayaan pemuda menjadi upaya mewujudkan tujuan.


Juga ada penegasan pentingnya langkah yang lebih jauh dan tindakan yang efektif sesuai dengan Hukum Internasional, untuk menghilangkan hambatan
pemenuhan hak menentukan nasib sendiri dari masyarakat yang hidup di bawah pendudukan kolonial dan asing, yang terus mempengaruhi pembangunan ekonomi dan sosial serta lingkungan mereka seperti yang dijelaskan dalam ayat 27 dari "The Future We Want" diadopsi pada Rio +20.

G77 mengakui kerja keras yang dilakukan oleh Ketua dan negara-negara anggota lain  dari OWG, dan sangat percaya pada kebutuhan untuk memasukkan fokus-area dengan dampak transformatif yang nyata menuju agenda pembangunan yang nyata dan komprehensif. Dengan niat itu, G77 meminta dimasukkannya bidang budaya,  perdagangan, transfer teknologi, arsitektur keuangan dan perpajakan. G77 percaya pada kebutuhan untuk mengatasi tantangan utama pembangunan negara-negara berkembang,  termasuk sifat multidimensi kemiskinan dan pengembangan serta penciptaan dan promosi barang publik global. Hanya dengan mengakui dan memasukan kebutuhan-kebutuhan tersebut  kita benar-benar dapat  berbicara tentang agenda pembangunan global, universal, transformatif dan terjangkau.

Dalam hal ini, G77 menyerukan pemenuhan mendesak dan segera dari dokumen PBB yang  relevan dan resolusi yang meminta semua negara anggota untuk menahan diri dari menyebarkan dan menerapkan segala bentuk langkah ekonomi, keuangan  atau perdagangan pemaksaan sepihak, terhadap negara berdaulat lainnya. Langkah-langkah ini merupakan pelanggaran nyata dari  HukumInternasional, Piagam PBB dan Hak Asasi Manusia, terutama Hak atas Pembangunan. Selain itu, langkah-langkah ini menghambat  pencapaian penuh pembangunan ekonomi dan sosial, terutama di negara-negara  berkembang.

Terakhir, mengenai Pertemuan Bersama Komite Antar Pemerintah Ahli Pembiayaan Pembangunan  Berkelanjutan (hasil lain dari Konferensi Rio+20) dan OWG, G77 menekankan perlunya menangani,  antara lain isu-isu berikut: sumberdaya tradisional dan non-tradisional dan sumber potensial yang diidentifikasi oleh para ahli sebagai pendorong utama SDGs selama15 tahun mulai 2016; cara untuk  mempertahankan sifat universal sarana implementasi dengan cara yang menjamin arus dan  teknologi sumberdaya yang memadai transfer dengan memperhatikan yang masing-masing diidentifikasi SDG, dengan referensi khusus untuk negara-negara yang tertinggal; dan mendorong  area dimana komite pembiayaan menemukan sebagai area prioritas untuk ditangani.

Terjemahan dari SDGs: G77 and China sets priorities, common but differentiated responsibility to be a guiding principle (TWN Info Service on UN Sustainable Development (Mar14/02)
5 Maret 2014)

 
< Prev   Next >