Menu Content/Inhalt
Home
Keuntungan-Keuntungan Samar-Samar dari Fasilitasi Perdagangan PDF Print E-mail
Friday, 08 August 2014

[Jeronim Capaldo-Medford, Mass. Amerika Serikat] Pada malam menjelang Konferensi  Tingkat Menteri (KTM) WTO di Bali 2013 lalu, Kamar Dagang Internasional (ICC) menegaskan kembali klaimnya bahwa fasilitasi perdagangan akan menambahkan 1 Trilyun Dolar pada  pendapatan dunia. 

Estimasi ini berlandaskan pada sebuah studi yang diterbitkan oleh ICC, yang juga mengklaim bahwa fasilitasi perdagangan dapat menciptakan 18 juta lapangan pekerjaan di negara-negara berkembang. Makalah kebijakan GDAE oleh Jeronim Capadlo menyibak kepalsuan klaim ini dan mengemukakan beban-beban bagi bagi negara-negara berkembang

Sayangnya, angka-angka tersebut bergantung pada terlampau banyak asumsi yang tidak dapat dijelaskan untuk menjadi sandaran. Ketidakakuratan terakumulasi pada beberapa tahap proses estimasi tersebut: pada pemberian estimasi  keuntungan –keuntungan fasilitasi perdagangan untuk sebuah sampel negara-negara, pada peningkatan keuntungan-keuntungan bagi tingkat global dan pada perkiraan keuntungan-keuntungan lapangan kerja.

[Dalam perjalanan menuju Koferensi Tingkat Menteri kesembilan Bali, pada proses negosiasi Putaran Pembangunan Doha, Komite Perundingan Perdagangan WTO, yang dipimpin oleh D-G Roberto Azevedo, pada Sidang Umum (yang dipimpin oleh Shahid Bashir dari Pakistan) dan Azevedo memimpin   pertemuan formal maupun informal pasca konsultasi GC (General Council) di Genewa, dan Ketua Konferensi Tingkat Menteri Indonesia yang dipimpin oleh, Menteri Gita Wiryawan dan Azevedo memimpin konsultasi-konsultasi HOD (Ketua Delegasi – head of delegation) baik formal maupun informal pada KTM, pada pertemuan USTR (delegasi Amerika Serikat) Michael Forman dengan Kelompok negara Afrika di KTM ke-9 (Laporan-laporan Washington Trade Daily) Dimana ia menjual paket Bali sebagai paket yang menguntungkan semua negara-negara anggota karena adanya Perjanjian Fasilitasi Perdagangan (trade facilitation agreement), dengan gaya menyerupai penjual obat minyak ular dalam karya Mark Twain, maupun disaat dan setelah pertemuan, di website WTO, tanpa fakta, liar, keuntungan-keuntungan perdagangan global dan lapangan pekerjaan sebesar 1 Trilyun Dolar secara berulang-ulang dikutip, diproklamirkan dan dinyatakan. ]

Angka-angka yang dihasilkan terlalu samar-samar untuk mendukung setiap keputusan-keputusan kebijakan.

Lebih jauh, perhitungan estimasi yang hanya merujuk kepada keuntungan-keuntungan bruto tidak menyertakan biaya-biaya yang terkait dengan fasilitasi perdagangan baik dalam hal investasi maupun lapangan pekerjaan. Namun, di proposal saat ini, negara-negara berkembang disyaratkan untuk menanggung  seluruh biaya implementasi tanpa partisipasi keuangan dari negara-negara maju.

Sulit untuk memahami  bagaimana keuntungan-keuntungan yang samar-samar dan distribusi biaya yang tidak merata ini dapat membenarkan pengalihan sumberdaya-sumberdaya dari kebijakan-kebijakan yang sangat diperlukan seperti penguatan jaring pengaman sosial  kepada fasilitasi perdagangan.

ICC Mengestimasikan Keuntungan Ekspor, Perdagangan Dan Lapangan Kerja

Estimasi ICC dirangkum dalam tabel 1 (lihat dalam website GDAE di bawah). Keuntungan ekspor diperoleh mengestimasi sebuah persamaan pelik yang menghubungkan aliran perdagangan untuk mengukur dimensi-dimensi yang berbeda-beda dalam fasilitasi perdagangan Dampak Produk Domestik Bruto, maupun lapangan kerja didasari dari estimasi-estimasi tersebut.

Peningkatan pada Produk Domestik Bruto diperhitungkan menjadi sebuah proporsi tetap dari dua arah perdagangan (46 persen untuk seluruh negara-negara), akhirnya diperoleh dengan menggandakan estimasi keuntungan-keuntungan ekspor. Proporsi tetap yang dipilih tersebut merupakan rata-rata estimasi proporsi-proporsi  dalam studi-studi yang berbeda, bermula dari 11 persen hingga 109 persen, dan sebagian besar berdasarkan pada model-model Komputasi Keseimbangan Umum (Computable General Equilibrium  - CGE).

Hal itu ibarat  anggur lama dalam tong baru karena estimasi CGE sangat dikenal kurang baik untuk mengubah elastisitas.

Peningkatan lapangan kerja dihitung untuk setiap negara mengalikan estimasi keuntungan ekspornya sebesar rata-rata rasio tenaga kerja-output sektor industrinya. 

Nilai-nilai parameter seluruh estimasi yang diperoleh dengan cara demikian tentu akan sangat sensitif akan perubahan, sehingga estimasi tersebut kelak menjadi masalah kritis. .

Mengestimasi Keuntungan-Keuntungan Fasilitasi Perdagangan

Sumber pertama ketidakakuratan dalam memberikan estimasi keuntungan fasilitasi perdagangan adalah pengukuran fasilitasi perdagangan itu sendiri. Berbeda dari ekspor, impor dan biaya produksi, fasilitasi perdagangan tersusun  atas beragam dimensi, seperti ketersediaan informasi pada internet atau homegenitas dokumentasi yang biasanya diukur dengan skala sewenang-wenang. Indek-indek fasilitasi perdagangan semacam itu mungkin berguna untuk memahami pola yang luas namun indeks-indek tersebut hampir tidak memuat informasi yang diperlukan untuk menetapkan korelasi akurat dengan variabel-variabel lain. Ketidakakuratan lainnya dalam estimasi berasal dari data yang digunakan dalam perhitungan.

Studi-studi empiris fasilitasi perdagangan yang banyak dikutip, kembali ke tahun-tahun pra-krisis, ketika pertumbuhan PDB dan komoditi-komoditi perdagangan sangatlah jauh berbeda dengan saat ini. Bahkan meski tidak dimasukan secara langsung dalam harga estimasi, pertumbuhan dan harga-harga komoditas dapat mempengaruhi perdagangan barang dan elastisitas-elasitas yang relevan secara kuat.

Meningkatkan Dan Melakukan Agregrasi Hasil-Hasil

Ketidakakuratan tambahan berasal dari pengembangan hasil-hasil yang diperoleh untuk sebuah sampel negara-negara hingga ke tingkat global. Studi ICC secara khusus memuat dua asumsi berikut:

a. Rasio keuntungan ekspor negara maju terhadap rasio keuntungan negara berkembang dianggap konstan. Dengan mengandalkan temuan bahwa keuntungan dari negara-negara maju sekitar 84 persen dari keuntungan negara-negara yang ekonominya sedang berkembang. senilai 1.137 Milyar dolar perkiraan keuntungan bagi negara-negara ini siap diubah menjadi 949 Milyar dolar bagi negara-negara maju. Meski nilai ini sangat mempengaruhi estimasi namun tidak memiliki justifikasi. 

b. Bila keuntungan-keuntungan semacam itu sangat diperhitungkan bagi tiap-tiap negara blok sampel, keuntungan-keuntungan tersebut diangkat pada tingkat global dengan menerapkan sebuah proporsi.

Jelaslah bahwa kedua asumsi lebih memperluas interval yang tercakup oleh estimasi-estimasi tersebut, mengorbankan kebermaknan asumsi-asumsi tersebut.

Dampak Terhadap Lapangan Kerja

Studi ICC mengestimasikan sebuah dampak positiF lapangan pekerjaan dari fasilitasi perdagangan dalam bentuk permintaan 20 juta lapangan kerja yang 90 persennya berada di negara-negara berkembang. Sayangnya, estimasi-estimasi ini memiliki kelemahan sehingga hampir tidak sesuai untuk perdebatan kebijakan perdagangan.

Kelemahan mendasar membuat banyak estimasi resmi keuntungan-keuntungan perdagangan menjadi sorotan dalam putaran terakhir perdebatan tentang liberalisasi. Dalam konteks itu, terbukti bahwa liberalisasi mungkin mengarah kepada pengangguran yang lebih tinggi dengan keuntungan yang lebih berpihak pada pekerja di sektor yang melakukan ekspor. Dalam ekonomi di mana sebagian besar permintaan agregat berasal dari pekerja yang memproduksi barang-barang tak diperjualbelikan ini, redistribusi pendapatan dari sektor ini kepada pekerja di industri-industri pengekspor mungkin mengakibatkan aktivitas ekonomi yang lebih rendah. Dalam hal ini tampaknya lebih besar akan  kehilangan lapangan kerja ketimbang penciptaan lapangan kerja.

ICC mengakui efek-efek ini namun estimasi ICC  terhadap lapangan kerja hanya merujuk kepada pekerjaan-pekerjaan "pendukung" atau menggunakan terminologi umum, "tercipta" lapangan kerja. Sayangnya, sebagaimana ekonomi negara berkembang yang lebih terbuka bagi pasar internasional,  tidak ada alasan untuk berharap bahwa penciptaan lapangan kerja ini melampaui lapangan kerja yang hilang.

Ketidakpastian Ekspor, Pendapatan Dan Lapangan Kerja

Penerapan reformasi fasilitasi perdagangan merupakan proses yang mahal, kemungkinan,  memerlukan tim-tim dengan personil yang terspesialisasi dan, diterapkan di banyak negara, biaya konsultasi internasional yang besar. Biaya-biaya ini mengharuskan pengalihan sumberdaya dari pelayanan-pelayanan lain seperti perawatan kesehatan dan pendidikan. Meski wajar untuk berharap bahwa fasilitasi perdagangan akan menghantar kepada arus perdagangan yang lebih besar, namun, tidak ada indikasi manfaat keuntungan besar

Kenaikan 1 Trilyun Dolar pada pendapatan global yang diperkirakan oleh ICC didasari pada terlalu banyak asumsi-asumsi yang tidak dapat dijelaskan untuk menentukan perubahan-perubahan kebijakan apapun. Hal yang sama berlaku pada 18 juta lapangan pekerjaan di negara-negara berkembang. Disatu sisi, negara-negara berkembang akan diminta untuk menanggung seluruh biaya fasilitasi perdagangan tanpa peran serta negara-negara maju. Dalam konteks ini, sangat sulit memahami mengapa fasilitasi perdagangan harus menjadi prioritas kebijakan tiap orang.

[*Jeronim Capaldo adalah peneliti senior dalam program globalisasi pada  The Global Development And Environment Institute, sebuah institusi riset di Universitas Tufts. yang didedikasikan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana masyarakat dapat mengejar tujuan-tujuan ekonomi dan komunitas mereka dalam prilaku yang berkelanjutan secara sosial dan lingkungan. Artikel di atas disadur  dari makalah kebijakan GDAE no 13 tanggal 2 desember 2013 dan diterbitkan pada South-North Development Monitor (SUNS) Pemberitahuan untuk tabel, catatan kaki, sumber dan pautan, lihat http://ase.tufts.edu/gdae.]

Diterbitkan pada South-North Development Monitor (SUNS) edisi 7713 tertanggal 9 Desember 2013 Layanan Informasi Third World Network tentang WTO dan Isu-isu Perdagangan (03/Agustus 2014). Edisi bahasa Inggris bisa dilihat dalam  http://www.twn.my/title2/wto.info/2014/ti140803.htm

 

 
Next >