Pengurangan Emisi Negara Maju Masih Diperdebatkan
Monday, 14 June 2010

[Lim Li Lin – Bonn] Negara berkembang kembali mendesak negara maju untuk membuat komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dalam pertemuan  Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bonn, Jerman pada awal Juni 2010. Kelompok Kerja mengenai Komitment Negara Annex I (negara maju) di bawah Protokol Kyoto (AWG-KP) mengadakan pertemuannya pada 4 dan 5 Juni untuk membahas hal tersebut.

Kelompok ini membahas catatan yang dipersiapkan Sekretariat  UNFCCC berjudul  ‘Compilation of pledges for emission reductions and related assumptions provided by Parties to date and the associated emission reductions’, berupa kumpulan janji untuk mengurangi emisi dari negara maju beserta asumsi mereka.  Catatan itu menyebutkan bahwa pengurangan emisi GRK dari negara Annex I secara agregat (Annex 1 adalah negara maju anggota Protokol Kyoto yang harus menurunkan emisi pada 2008-2012 dan sekarang membahas komitmen kedua untuk pasca 2012) diharapkan antara  17 dan  25 % di bawah tingkat  1990 pada 2020, terlepas apakah akan memasukan atau tidak memasukkan unsur penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan dan kehutanan atau  land use, land use change and forestry (LULUCF).

Sekretariat juga menyajikan makalah teknis berjudul ‘Issues relating to the transformation of pledges for emission reductions into quantified emission limitation and reduction objectives’. Ini adalah pembahasan teknis bagaiman mengubah janji pengurangan emisi menjadi pengurangan emisi terkuantifikasi.

Para negara Pihak menyampaikan reaksi mereka atas janji pengurangan emisi tersebut termasuk isu  LULUCF, penggunaan kelebihan satuan jumlah yang dialokasikan atau  assigned amount units (AAUs) dari satu periode komitmen ke berikutnya, dan penggunaan mekanisme pasar fleksibel dari Protokol Kyoto.

China mengatakan bahwa sebelum konfereni Kopenhagen (2009), Kanada berjanji mengurangi emisi GRK sebanyak  20% pada 2020 dari tingkat  2006 levels, dan hingga  60-70 % pada  2050 di bawah  2006. Namun, dalam konteks Perjanjian Kopenhagen,  Kanada berjanji mengurangi emisi 17% pada  2020 di bawah tingka  2005, "agar sesuai dengan target emisi seluruh sektor ekonomi yang diundangkan oleh Amerika Serikat”.

China bertanya mengapa suatu negara Annex I (dalam hal ini Kanada) menyesuaikan targetnya dengan negara yang bukan anggota Protokol Kyoto? (AS bukan anggota Protokol Kyoto).  Ada kesenjangan yang amat besar antara janji dan apa yang harus dipenuhi secara ilmiah dan berdasarkan tanggung jawab historis bagi pengungaran emisi negara Annex I secara agregat. Janji tersebut sudah amat rendah, dan tengah direvisi menjadi lebih rendah, bukan justru dianikkan. Jika ini dilanjutkan maka kesenjangan akan jadi lebih besar.

Kanada menanggapi bahwa amat penting bagi negaranya untuk mempunyai target yang disesuaikan dengan AS karena ekonominya amat terkait erat dengan AS dan mereka mempunyai hubungan perdagangan yang besar.

Mikronesia  atas nama Aliansi negara Kepulauan Kecil  (AOSIS) mengatakan bahwa negara Annex I yang menggunakan  basis perhitungan lain untuk perbandingan pengurangan emisi selain  1990 ( yang digunakan dalam Protokol Kyoto) harus mengubah angkanya ke tingkat 1990. Mikronesia meminta Negara Annex I untuk memberikan kejelasan tentang asumsi yang mendasari janji mereka termasuk mengenai  LULUCF, apakah ingin menggunakan kelebihan AAU, mekanisme Pembangunan bersih atau clean development mechanism (CDM) dan Implementasi bersama atau  joint implementation (JI). Mereka mengatakan bahwa akibat lingkugannya harus dianalisis, dengan melihat dampak kumulatif dari janji tersebut dibandingkan dengan tingkat 1990.  

Selandia Baru  mengatakan tidak merencanakan penggunaan CDM atau  JI. Pilihan ini di tangan sektor swasta dan pemerintah tidak mempunyai kendali atasnya.

Uni Eropa mengataka bahwa mereka membatasi tukar guling yang dapat dilakukan sektor swasta dan CDM bersifat tambahan atas upaya domestik.

Filipina minta agar Sekretariat menambahkan satu kolom dalam Tabel Janji Pengurangan Emisi oleh Annex I, yaitu yang mengindikasikan pengurangan domestik yang akan dilakukan oleh negara Annex I. Ini untuk menjamin transparansi.

Bolivia mengatakan yang diperlukan adalah pengurangan emisi domestik berupa angka konkrit agar janji yang dibuat Annex I menjadi transparan. Janji sudah dibuat, tapi banyak peraturan belum diklarifikasi. Salah satu caranya adalah agar Para Pihak mengklarifikasi apa yang akan dilakukan secara domestik.

Bolivia mengatakan pengurangan emisi negara maju harus mengacu pada alokasi yang adil atas ruang atmosfer, memperhitungkan angkanya dari 1750 hingga 2050.  Negara maju, dengan mempertimbankgan jumlah penduduknya, telah mengambil bagian yang amat besar dari ruang atmosfer. Berdasarkan berbagai skenario peningkatan suhu, bisa dihitung anggaran GRK yang boleh dibuang ke udara. Hal ini akan menjadi acuan bagi target agregat untuk pengurangan emisi negara maju, dengan mempertimbangkan tanggung jawab historis.

Jadi, menurut Bolivia yang diperlukan adalah informasi  and analisi tentang  (i) upaya pengurangan emisi domestik yang akan dilakukan negara  Annex I, dan  (ii) distribusi dan emisi historis dari ruang atmosfer secara adil.

UE mengatakan ada dua cara melihat isu ini, dan jawaban atas pertanyaan “apa yang ingin anda lakukan” adalah “apapun yang diperbolehkan oleh peraturannya”. UE menganalogikan penentuan target pengurangan emisi sebelum memutuskan peraturan sebagai seperti bermain sepakbola dimana peraturan ditetapkan hanya setelah permainan dimulai.

Bolivia, menanggapi EU, mengatakan jika  negara berkembang  melakukan apapun yang diperbolehkan oleh peraturan, maka kita semua akan berada dalam situasi yang amat buruk. Kita harus mengubah cara berpikir kita, demi kemanusiaan dan alam, karena mereka yang tidak merusak banyak atau tidak merusak, sekarang justru menjadi korban akibat emisi historis dari negara maju.  

Ketua  Jurgen Lefevere dari UE menyimbulkan bahwa Para Pihak telah menyarankan agar Para Pihak mengkonversi semua janji pada tingkat  1990, membandingkan janji itu dengan periode komitmen pertama, dan menyediakan angka mengenai penggunaan sebenarnya dari  AAU, CDM and JI, serta apa yang dilakukan pada tingkat domestik.  .

Pada 5 Juni, Para Pihak membahas makalah teknis Sekretariat yaitu ‘Issues relating to the transformation of pledges for emission reductions into quantified emission limitation and reduction objectives’ (QELROs).

Mikronesia, atas nama AOSIS menyarankan bahwa contoh  nyata di suatu negara akan berguna dan menyajikan pilihan yang memberikan hasil paling ambisius.  Mikronesia mengatakan bahwa tidak mungkin menyiapkan QELROs (Tujuan pengurangan dan pembatasan emisi yang terkuantifikasi) yang menggunakan basis tahun berbeda, jadi harus ada basis tahun bersama.  Pemilihan titik tolak amat penting karena memberikan gambaran bagaimana posi lain berhubungan dengan opsi primer. AOSIS berpandangan bahwa masa komitmen 5 tahun adalah sesuai, dan pengurangan emisi  45%  pada  2020 dari tingkat  1990.

Selandia Baru, didukung Australia, menekankan bahwa  QELROs akan dirundingkan, dan hasilnya akan berupa komitmen mengikat. Jadi perlu proses untuk merundingkan  QELROs, tidak semata-mata dicapai melalui sebuah proses berbasis rumus.

Russia mengatakan bahwa ekonomi global sedang menghadapi krisis dan baru saja mulai pulih. Sulit untuk membuat asumsi dan mengembangkan trajektori emisi saat ini. Setiap negara seharusnya bisa memlih bagaimana mencapai targetnya dan membangun ekonomi itu berdasarkan target.

Bolivia menyarankan agar ada makalah teknis yang dapat memperlihatkan janji yang dibuat Annex I dalam bentuk  QELROs. Disarankan untuk mempertimbangkan empat skenario -- QELROs untuk periode komitmen pertama, tingkat emisi saat ini, komitmen berikut untuk 5 tahun, dan komitmen untuk 8 tahun, menggunakan 1990 sebagai tahun basis. Hal ini akan membantu memberi gambaran tentang pilihan yang ada.

Filipina  mengatakan sejauh ini, yang dilakukan adalah pendekatan bawah-ke atas terhadap janji, dan menginginkan pendekatan atas-ke bawah untuk menentukan target agregat bagi pengurangan emisi

Japan mengatakan mereka tidak akan menyatakan semua pilihan dan posisi, karena diskusi mengenai hal ini masih prematur.

 Brazil atas nama kelompok  G77 dan  China mengatakan posisi G77 adalah tahun basis 1990, dan masa komitmen lima tahun.

Diskusi diteruskan pada minggu berikutnya dan akan dimuat dalam laporan selanjutnya.

Sumber: Developing countries press Annex 1 Parties on their emission reductions pledges dimuat dalam TWN Bonn News Update No.15, 08 Juni 2010, llebih lengkap silahkan melihat www.twnside.org.sg