Upaya Membunuh Protokol Kyoto Dilanjutkan Negara Maju
Friday, 25 June 2010

[Lim Li Lin dan Chee Yoke Ling – Bonn] Negosiasi target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk negara maju paska 2012 kembali tertunda karena negara maju tetap enggan membuat komitmen tersebut. Sidang selama dua minggu (1-11 Juni 2010) di Bonn, Jerman diwarnai dengan upaya negara berkembang mendorong negara maju yang menjadi anggota Protokol Kyoto untuk membuat komitmen pengurangan emisi sesuai dengan yang disyaratkan oleh data dan informasi ilmah tentang perubahan iklim.

Salah satu alasan keengganan negara maju adalah bahwa harus ada keseimbangan di antara dua jalur perundingan dalam Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Kedua jalur tersebut adalah  AWG-KP (Ad hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol) yang membahas komitmen periode kedua untuk pengurangan emisi; dan AWG-LCA (Ad hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention)  yang membahas kerjasama jangka panjang.

Pada sidang pleno penutupuan, Jepang  bersikeras agar ada “keseimbangan” di antara kedua kelompok kerja. Jepang mengatakan bahwa hasil dari AWG-LCA adalah jelas, sementara mereka tidak melihat ada kemungkinan itu di dalam AWG-KP. Jepang ingin melakukan diskusi lebih luas tentang mitigasi dan tindakan, termasuk oleh Pihak negara maju (dikenal sebagai Annex I) yang bukan anggota Protokol Kyoto.

Uni Eropa (UE) mengatakan bahwa AWG-KP membuat kemajuan dalam hal angka pengurangan emisi, peraturan dan produk legal, sementara AWG-LCA belum membuat kemajuan yang sama. UE mengatakan mereka tidak bisa menerima hasil yang tidak seimbang pada konferensi iklim Desember 2010 nanti di  Cancun, Mexico.

Negara berkembang, termasuk Brazil yang berbicara untuk Kelompok G77 dan China, serta Tuvalu, menyatakan sebaliknya. Mereka menyebutkan bahwa  AWG-KP sudah bekerja selama empat tahun, tapi hasil kerja AWG-LCA lebih maju walaupun baru dua tahun.

China mengatakan bahwa kemajuan dalam AWG-KP adalah satu-satunya cara memastikan ada keseimbangan dalam Peta Jalan Bali (Bali Roadmap), dan ini adalah kunci dari keberhasilan negosiasi saat in dan nanti di Cancun, Mexico.

 [AWG-KP dibentuk pada Desember 2005 untuk menegosiasikan komitmen negara  Annex 1 (negara maju dan negara dalam transisi ekonomi) di bawah Protokol Kyoto untuk masa setelah periode komitmen pertama pada 2008-2012 selesai. Seharusnya AWGK-KP menyelesaikan pekerjaannya, yaitu menetapkan target pengurangan emisi agregat dan individual untuk negara Annex 1 Parties dan diadopsi oleh para Pihak pada Desember 2009. Tapi hal itu tidak tercapai dan sekarang AWG-KP seharusnya menyelesaikan tugas untuk diadopsi pada konferensi Para Pihak di bulan Desember 2010.

AWG-LCA dibentuk pada Desember 2007 oleh anggota UNFCCC untuk “mendayagunakan implementasi penuh, efektif dan berkelanjutan dari Konvensi melalui aktivitas bersama jangka panjang, sekarang, hingga dan setelah 2012, guna mencapai hasil yang disepakati dan mengadopsi suatu keputusan” pada Desember 2009. AWG-LCA diberi mandat menyelesaikan pekerjaannya dan menyajikan hasilnya untuk diadopsi pada  Desember 2010.

[Ini adalah dua proses berbeda dengan mandat legal yang berbeda.]

Sesi ke12 AWG-KP di  Bonn berakhir pada 11 Juni malam karena perundingannya “disandera”  Russia yang ingin mencegah adanya penyebutan periode komitmen kedua dari Protokol Kyoto, dan peningkatan target pengurangan emisi GRK dari negara  Annex I.  

Negara berkembang menyatakan kemarahan mereka atas upaya membunuh Protokol  Kyoto ini.

Pada malam itu, nampaknya negosiasi nyaris buntu, dan bisa berakhir tanpa hasil, karena Rusia, yang pada awalnya didukung Jepang, menyandera perundingan hingga enam jam. Pleno final disuspensi dua kali guna memberi waktu pada Pihak untuk negosiasi informal, yang diadakan Wakil Ketua AWG-KP, Adrian Macey dari Selandia Baru. Pada pleno akhir yang dilanjutkan pukul 9 malam, Rusia mengatakan “tidak mempunyai minat” melakukan negosiasi substantif karena tidak ada penerjemahan. Seluruh ruangan nampak frustrasi.

Pada sesi sebelumnya, China mengatakan, “Beberapa pihak ingin menyandera proses ini, dengan minta tebusan berupa pekerjaan yang sedang dibahas di kelompok lain  (AWG-LCA). Ini adalah tindakan yang tidak bisa kami terima”.

China tidak melihat ada gunanya melakukan konsultasi informal, dan mengatakan bahwa yang diangkat Rusia serta Jepang seharusnya dibahas dalam pleno, dan terbuka serta transparan bagi media serta pengamat. Sumber informasi mengatakan bahwa China meninggalkan ruang konsultasi informal, dan bersikeras bahwa mereka tidak mau jadi bagian dari sebuah diskusi tertutup, yang sebenarnya adalah pembahasan mengenai masa depan Protokol Kyoto.

Bolivia mendukung pembahasan dalam pleno terbuka. Banyak negara berkembang  seperti Mesir, Nikaragua, Venezuela dan Gambia yang berbicara untuk Afrika, mengecam upaya membunuh  Protokol  Kyoto.

Akhirnya, kesimpulan yang diajukan Ketua  AWG-KP John Ashe (dari Antigua dan Barbuda) diadopsi melalui konsensus sekitar pukul 10 malam, dan difokuskan pada pekerjaan  AWG-KP lebih lanjut selama beberapa bulan mendatang.  

Sebuah lokakarya akan diadakan pada sesi AWG-KP berikutnya, Agustus 2010 nanti. Lokakarya akan membahas tingkat pengurangan emisi yang harus dicapai negara Annex I secara aggregat dan kontribusi tiap negara  Annex I pada tingkat pengurangan tersebut. Para Pihak diminta menyampaikan submisi tentang hal ini, kepada Sekretariat paling lambat 2 Juli 2010.  

Teks kesimpulan yang awal menyatakan “....dan menelaah cara-cara yang memungkinkan untuk menaikkan tingkat ambisi dari negara Annex I”. Tapi Rusia menolak ini. Maka, kemudian Ketua, atas tanggung jawabnya sendiri, mengusulkan teks berikut “... dan menelaah lebih jauh tingkat peningkatan pengurangan emisi yang harus dicapai negara Annex I, dengan menekankan bahwa konsensus mengenai ambisi keseluruhan dianggap penting”. Usulan ini berasal dari usulan Afrika Selatan dalam konsultasi informal.

Rusia pada awalnya menolak kata-kata “peningkatan” “progressif” dan sejenisnya. Pada akhirnya Rusia menerima kata “tingkat yang mungkin naik” yang diusulkan oleh Uni Eropa.

Sebuah lokakarya sebelum sesi AWG-KP berikutnya mungkin akan diadakan, tergantung keberadaan sumberdaya”.

Pada sesi ini, cara penghitungan isu tata guna lahan, perubahan tata guna lahan dan kehutanan (dikenal sebagai LULUCF) diajukan oleh banyak negara berkembang. Mereka mengingatkan bahwa saat ini aturan yang sedang dirundingkan lemah dan bisa menuju pada peningkatan emisi oleh negara  Annex I.

Sekretariat diminta memperbarui catatan tentang “Kompilasi Janji Pengurangan Emisi dan asumsi yang berikan para Pihak”, dengan menggunakan data dan informasi yang disampaikan para Pihak. Demikian pula makalah teknis tentang cara mengkonversi janji pengurangan emisi menjadi sasaran pengurangan dan pembatasan emisi terkuantifikasi, juga diminta diperbarui.

Para Pihak tidak mencapai konsensus tentang apakah tabel janji pengurangan emisi akan dibuka untuk umum.

Russia menyebut hal ini sebagai “latihan yang bagus tapi sia-sia atau “nice but useless exercise”. Jepang  mengatakan tabel itu bukan untuk disebarkan  kepada umum, dan hanya merupakan latihan di dalam kelompok kerja.

Bolivia minta agar informasi disajikan dalam nilai absolut, yaitu dalam  gigaton, selain dalam persentase. Bolivia juga minta diadakan tiga pendekatan. Pertama pendekatan dari atas ke bawah untuk mencapai angka agregat bagi pengurangan emisi Annex I. Kedua, pendekatan ilmiah untuk menentukan berapa angka agregat seharusnya. Ketiga, pendekatan keadilan dan tanggungjawab historis, untuk melihat bagaimana ruang atmosfer dibagi, dan bagaimana ruang itu akan dibagi pada 2017.  

Menurut analisis Bolivia, janji pengurangan emisi secara total untuk negara maju bisa jadi  10-14% di bawah tingkat 1990 pada 2017, tanpa peraturan dan kelemahan yang ada; dan bisa meningkat 4-8% di atas tingkat 1990 jika kelemahan tidak diatasi.

Isu penting lain adalah kesenjangan hukum yang sekarang ini jelas ada, antara masa periode pertama dan kedua untuk pengurangan emisi di bawah Protokol Kyoto.

Kesimpulan yang diadopsi pada 11 Juni meminta Sekretariat menyusun makalah yang “mengidentifikasi dan menelaah semua pilihan legal yang ada, termasuk usulan dari para Pihak ...., yang ditujukan untuk menjamin tidak ada kesenjangan antara periode komitmen pertama dan berikutnya” dan yang “mengidentifikasi konsekuensi dan implikasi legal dari kemungkinan kesenjangan antara periode komitmen pertama dan berikutnya”.

Kelompok kontak legal telah dibentuk pada sesi  legal AWG-KP ini, setelah ada pertanyaan dari Ethiopia tentang mekanisme untuk memberlakukan amandemen terhadap Protokol Kyoto untuk periode komitmen kedua Annex 1 mulai 2013. 

Russia bersikeras menolah sebutan “periode komitmen kedua” dan akhirnya setuju dengan sebutan “periode komitmen selanjutnya”.

Kesimpulan AWG-KP selanjutnya mengundang para Pihak untuk menyampaikan submisi mengenai data dan informasi baru tentang penggunaan LULUCF, perdagangan emisi dan mekanisme berbasis proyek untuk periode komitmen berikutnya, serta berkaitan dengan asumsi yang digunakan saat menyampaikan target pengurangan emisinya.

 [Pada sesi  AWG-KP ini, negara berkembang menyerukan agar ada transparansi dalam janji yang diajukan negara Annex I, dan agar mengklarifikasi berbagai hal tentang LULUCF dan penggunaan mekanisme fleksibilitas. Sejumlah negara berkembang juga minta informasi tentang pangsa pengurangan di tingkat domestik oleh negara Annex I dalam periode komitmen berikutnya.]

Sumber: Kyoto Protocol talks inch forward, despite some developed countries. TWN Bonn News Update No.21 tanggal 15 Juni 2010