Kisah dari Kerala: Ketahanan pangan dan kaum perempuan
Thursday, 20 January 2011

[Ananya Mukherjee Reed- India] Penulis menyoroti sebuah eksperimen inovatif yang dilakukan oleh pemerintahan Negara bagian India, Kerala  untuk meningkatkan partisipasi perempuan di bidang pertanian dan memastikan bahwa, perempuan sebagai produser memegang kendali atas produksi, distribusi dan konsumsi pangan. (Catatan editor: tulisan ini dibagi dua karena cukup panjang, ini adalah bagian pertama).  

Kerala,negara bagian dengan populasi kira-kira 32  juta orang di wilayah Selatan India, terkenal akan keberhasilan pembangunan umat manusianya. Dari tiap-tiap indek perkembangan umat manusia, Kerala terus menerus telah menempati peringkat tertinggi dibandingkan dengan Negara bagian di India dan negara-negara berkembang. Namun, yang paling menonjol atas keberhasilan ini adalah kemajuan sosial yang terjadi. Sejarah mobilisasi dari atas dan bawah serta sinergi antara ‘negara’ dan ‘masyarakat sipil’ menghasilkan ekperimen sosial dan budaya kolektif yang unik, meski tentu saja tidak lepas dari kompleksitas dan kontradiksi.

Satu aspek yang menjadi bagian dari dinamika ini adalah peran perempuan. Meski secara historis perempuan-perempuan Kerala telah menikmati tingkat melek aksara, pelayanan kesehatan, pelayanan bersalin dan lain-lain, posisi sosial atau partisipasi public tidak meningkat di level yang sama. Namun telah terjadi perubahan dramatis pada kondisi tersebut. Faktanya, saat anda selesai membaca artikel ini, mungkin saja babak baru dalam sejarah sosial Kerala telah dimulai.

Untuk pertama kalinya, 50% kursi untuk pemilihan majelis lokal Kerala telah disediakan bagi perempuan, dengan kira-kira 40 ribu perempuan disiapkan untuk jabatan politik. 11.600 kontestan ini berasal dari Kudumbashree, sebuah jaringan kelompok perempuan yang terkuat di negara bagian Kerala. Kudumbashree juga menjadi program pemerintahan Kerala untuk anti kemiskinan.

Pada bulan April 2010, saya memulai perjalanan saya di Kerala untuk mengamati eksperimen ini secara langsung. Pengamatan saya, dari semua hal itu, Kudumbashree adalah sebuah  ruang sosial dimana perempuan – yang dua, tiga kali termarjinalisasi - dapat aktif menentukan kebutuhan-kebutuhan serta aspirasi komunitas mereka dan membawa tuntutan kolektif mereka kepada pemerintah dan institusi-institusi publik.

Kudumbashree memiliki beragam aktivitas yang berbeda-beda, namun satu aktivitas yang saya amati merupakan pendekatan inovatif untuk memecahkan masalah krisis ketahanan pangan.

Sekitar 250 ribu perempuan Kudumbashree di seluruh Kerala bersama-sama membentuk usaha pertanian kolektif dengan menyewa bersama, menanaminya, menggunakan produk-produk tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumsi mereka dan menjual kelebihan produksinya ke pasar lokal.  Saat ini pertanian kolektif  mencapai 25 ribu hektar tersebar di 14 wilayah Kerala. Gagasan ini untuk meningkatkan partisipasi perempuan di bidang pertanian dan terutama untuk menjamin bahwa perempuan sebagai produsen memiliki kendali atas produksi, distribusi dan konsumsi pangan.

Strategi untuk melibatkan kaum perempuan pada bidang pertanian muncul di saat-saat kritis bagi Kerala. Seperti sebagian besar wilayah lain di dunia, sangat banyak tanah pertanian Kerala telah beralih fungsi menjadi pemukiman dan pembangunan komersial. Pada saat yang sama, jatuhya harga pertanian dan naiknya upah membuat pertanian menjadi aktivitas yang dipandang kurang menguntungkan – sehingga produksi pertanian di Kerala terus menurun. Karena situasi inilah Kerala mengembangkan strategi ketahanan pangan. Tidak seperti pendekatan standar ketahanan pangan, strategi ini di melewati distribusi pangan hingga bidang produksi pangan. Memang, seperti gerakan global seperti yang coba diusung oleh Via Campesina, tidak akan ada ketahanan pangan kecuali jika produksi pangan meningkat dan produser sejati pangan memiliki kendali terhadap ekonomi pangan. 

Saat saya menjelajahi Kerala, petani-petani Kudumbashree tampak tampil sebagai pemeran kunci dalam upaya untuk  peremajaan ekonomi agraria ini. Mereka mengembalikan fungsi tanah sebagai produksi pertanian melalui organisasi kolektif mereka. Perlahan tapi pasti, hubungan antara  mata pencaharian lokal, pasar lokal dan konsumsi lokal mulai kembali menguat. Saat saya di Kerala, perhatian saya perhatian untuk menilai Kudumbashree tidak sebesar perhatian yang saya curahkan untuk memahami bahwa ekperimen-eksperimen bisa berarti sangat konkrit bagi para pelaku utamanya.

Bagi sebagian besar dari 250 orang perempuan yang saya temui tersebut, pertanian bukanlah pekerjaan baru. Namun sebagian dari mereka untuk pertama kalinya mendapat penghasilan dari pekerjaan ini. Bagi yang lain, strategi ini merupakan transisi penting dari peran mereka sebagai buruh tani. ‘Sebelum ini kami hanyalah buruh’. Sekarang kami punya harapan,’ kata Savitri, buruh tani perempuan Dalit yang tak bertanah di wilayah Palakkad. ‘Harapan’ yang ia sampaikan mucul dari peran barunya sebagai seorang ‘produsen’sekaligus petani. Kini ia bekerja untuk dirinya sendiri dan kelompoknya, di tanah yang mereka sewa secara kolektif. ‘ketika menjadi buruh, saya hanya tau bekerja, hanya pekerjaan kasar dan tidak ada yang diraih setelah pekerjaan tersebut selesai’ katanya. Di wilayah Iduki, saya bertemu beberapa perempuan yang telah berhenti bekerja sebagai buruh upahan sejak mereka mulai bertani. Banyak sekali antusiasme dari perluasan aktivitas bertani, meski tanah tetap jarang.  

Palakkad merupakan daerah dengan upah terendah bagi pekerjaan pertanian di Kerala, dan  perempuan masih mendapat upah yang lebih rendah (45-46 Rupee sehari). Sebaliknya perempuan kini memperoleh 125 Rupee setiap hari, setelah pembenahan yang dilakukan oleh pemerintah India melalui Skema Jaminan Pekerjaan Desa (NREGS- National Rural Employment Guarantee). Hari kerja mereka juga telah dinegosiasikan kembali untuk menghindari kerja sore hari dengan panas yang menyengat di musim panas.

Berulang-ulang kali saya mendengar “Sebagai petani, kini kami mengontrol sendiri waktu, sumberdaya dan pekerja”. Dhanalakhsmi, seorang perempuan muda di Elappullys menyatakan kepada saya bahwa perubahan perannya dari seorang buruh menjadi produsen  berdampak besar bagi anak-anaknya. ”Sekarang mereka memiliki pandangan berbeda terhadap saya. Saat kami ada pertemuan mendiskusikan sawah-ladang kami, pemasukan kami atau bertukar pikiran atas masalah-masalah kami, mereka sangat tertarik untuk melihatnya”.

Hasil pertanian kolektif Kudumbashree mengagumkan. Di Perambra, wilayah Kozhikode, misalnya, perempuan-perempuan Kudumbashree dan komunitas lokal bekerjasama menyegarkan 140 acre. tanah yang telah tandus selama 26 tahun. Kini tanah tersebut subur dan hijau berlimpah padi, sayur-sayuran dan tapioka, burung-burung yang migrasi selama dua dekade kini kembali.

Kanal utama yang mengaliri seluruh Perambra telah menjadi rawa selama 26 tahun. Tantangan pertama komunitas adalah kembali menghidupkan kanal tersebut. Ketika kami mengerjakan kanal kami digigit ular dan terluka karena pecahan-pecahan gelas dan alat penyemprot. Banyak yang terpaksa dirawat di rumah sakit. Namun kami tidak menyerah, kata salah satu dari mereka. Segenap komunitas termobilisasi dan terlibat. Dua orang laki-laki, Abdullah dan Narayan Nair, mengatakan kepada saya bahwa mereka rasa telah terjadi perubahan dalam komunitas dan semakin banyak perempuan terlibat dalam kerja produktif.

Pengalaman pertanian juga menyampaikan kepada tenaga NREGS. Banyak yang mengkritik NREGS sebagai sebuah program kerja yang dibuat sementara yang terikat untuk menggerakan inefisiensi yang telah lama terjadi. Untuk memperbaiki lahan tandus, Kudumbashree menggunakan dana NREGS yang diperuntukan bagi pengerjaan lahan. Di Perambra, sekitar 1.037 perempuan bekerja selama 14.518 hari kerja sehingga  lebih dari dua Lakh (Lakh = seratus ribu Rupee) diberikan pada rumah tangga Kudumbashree. Untuk itu ditambahkan dana dari berbagai lembaga-lembaga dan pinjaman bank dengan bunga rendah.

Ananya Mukherjee-Reed adalah seorang professor bidang ilmu politik, studi pembangunan dan pemikiran sosial politik di Universtas York, Canada. Artikel ini pertama kali muncul dalam dua bagian di website OneWorld Asia Selatan <southasia.oneworld.neort>.

Tulisan ini diterjemahkan dari versi yang dipublikasikan ulang dalam Third World Resurgence no 242/243 (Edisi Oktober/November 2010) oleh Third World Network www.twnside.org.sg

Catatan penerjemah :

·          Dalit dalam sistem kasta di India adalah seorang yang biasanya diharamkan untuk disentuh. Mereka juga dikenal sebagai kaum tak berkasta. Kaum dalit secara historis telah dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun kecuali pekerjaan-pekerjaan yang paling rendah.

·          1 akre = 0.4646 hektar