Kisah dari Kerala (bagian 2): Ketahanan pangan dan kaum perempuan
Monday, 24 January 2011

[Ananya Mukherjee Reed- India] Ini adalah bagian kedua dari tulisan mengenai  upaya pemerintah Kerala - India meningkatkan partisipasi perempuan dalam pertanian. Di bagian ini, penulis menceritakan hasil eksperimen inovatif ini juga menggerakkan perubahan sosial lain. 

Namun, peningkatan pendapatan hanyalah satu potongan gambar. Kaum perempuan menarik banyak perhatian karena mereka menggerakan perubahan-perubahan lain.

Pertama, kaum perempuan sangat bangga akan produksi organik mereka. Beberapa kelompok Kudumbashree memproduksi pupuk organik dan memperaktekan pengelolaan air dengan bijaksana karena kesulitan air di Kerala. Di Payyoli, sebuah kelompok Kudumbashree menyampaikan bahwa mereka ‘bermimpi‘ untuk mengembangkan seluruh lini produk organik mereka, mulai dari pakan ternak, hingga pupuk, hingga produk susu organik. Mereka menyampaikan mimpi tersebut setelah satu tahun memulai usaha pertanian. “Dengan sumberdaya dan dukungan yang ada, tidak akan ada akhir atas apa yang dapat kita lakukan”.

Kedua, dan dalam beberapa hal, prospek-prospek itu membuka inklusi sosial. Banyak petani Kudumbashree yang dulunya buruh tani sekaligus seorang Dalit, sangat bergembira menjadi bagian dari kolektif perempuan dari kasta-kasta lain. Hal ini sangat berarti bagi komunitas-komunitas yang tersiksa oleh ketidakadilan kasta.

Memang, rasa sakit karena ketidakadilan kasta membekas pada jantung kesadaran lokal. Saya mendengar dengan jelas hal itu disuarakan oleh Arun, seorang anak laki-laki Dalit yang dengan malu-malu menyanyikan lagu untuk saya dan yang lain pun mendesaknya untuk menyanyi. Ia kemudian menyanyi dan para pekerja dari ladang terdekat berkumpul untuk mendengarkannya meski panas menyengat bersuhu 43 derajat di sore hari, rasa malunya perlahan-lahan lenyap, suaranya semakin terdengar dan matanya berkilau-kilau cemerlang yang jarang saya lihat. Lagunya begini : kasta tinggi tidak bisa tahan sentuhan kami, namun mereka tidak keberatan menggunakan hasil kerja kami. Melihat seluruh komunitas bekerjasama menghirup kehidupan dari tanah tandus Perambra menjadi sangat berarti bagi mereka yang telah lama mengalami penghinaan ini. Dimanapun saya melangkah, kaum perempuan Kudumbashree menyuarakan perlawanan mereka terhadap sistem kasta. Puspha, pemimpin kudumbashree yang sangat dinamis, menyampaikan kepada saya bahwa ia memimpikan untuk ‘menyaksikan’ berakhirnya sistem kasta.

Kelaparan, kemiskinan atau ketahanan pangan tentu saja bukan isu yang terisolir yang dapat diselesaikan oleh teknokrat, betapapun ‘pandai’ nya mereka. Isu tersebut mempengaruhi seluruh realitas sosial dari komunitas  yang seringkali memiliki solusi yang mungkin saja berhasil namun tidak memiliki kuasa untuk menerapkannya Seperti yang disoroti melalui pengalaman Kudumbashree, ketahanan pangan, tak dapat terjadi tanpa penguatan produsen pangan dan komunitas yang memproduksi pangan.

terhadap kanvas ini, bagaimana cara kita memahami potensi eksperimen potensi ketahanan pangan Kudumbashree?

Saat ini, sekitar 250 orang perempuan menjalankan usaha pertanian kolektif pada lahan kira-kira seluas 27 ribu hektar (66 ribu acre). Skala keterlibatan perempuan tersebut dalam produksi kolektif tentulah bukan sesuatu yang umum.  Para petani Kudumbashree menunjukan antusiasme luar biasa terhadap perluasan operasi ini. Mereka tertarik bereksperimen dengan benih baru, metode organik, pemerintahan yang lebih baik dan jalinan yang lebih kuat dengan pasar lokal dan lain-lain. Darimana asal antusiasme ini?

Pertama, seperti yang disampaikan oleh para perempuan itu kepada saya, pertanian adalah hal yang alami bagi mereka. Bagi beberapa perempuan inilah kesempatan pertama untuk menggunakan keahlian ‘alami’ mereka kearah pendapatan sendiri. Bagi yang lain pertanian kolektif menandai transisi yang sangat berarti dari buruh upahan menjadi produksi sendiri. Perempuan ingin sekali berbicara tentang kendali atas waktu dan pekerjaan yang kini mereka nikmati yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Kedua, antusiasme mereka untuk kerja pertanian sangat terkait dengan sifat aktivitas kolektif dan hubungan solidaritas mereka. Seperti yang disampaikan petani Kudumbashree kepada saya, “kami telah membangun solidaritas yang kuat dan saya merasa hampir tidak ada yang tidak bisa kami lakukan”. 

Seperti yang ditunjukan melalui kata-kata seorang perempuan muda muslim, Kelompok Kudumbashree terlihat menunjukan rasa inklusi sosial yang kuat. Anggota-anggota sangat vokal menentang diskriminasi kasta dan agama. Mereka dengan bangga memproklamirkan Kudumbashree menjadi organisasi perempuan miskin pertama dan terutama. Meski sulit untuk menilai seberapa represetatif hal ini dari 3,7 juta anggota Kudumbashree, saya tetap ingin tahu apa yang memungkinkan inklusi sosial ini, terutama karena masyarakat India yang terpecah belah. Hipotesis saya adalah susunan yang menghubungkan anggota-anggota Kudumbashree disarikan dari pengalaman gender, kelas, lokalitas dan komunalitas yang berasal dari sana. Keterlibatan perempuan dalam pertanian tampak menyediakan pengalaman bersama dimana solidaritas menang di atas keretakan sosial.

Untuk dapat lebih memahami relasi sosial ini kita perlu melihat lebih dekat bagaimana Kudumbashree diorganisir. Kudumbashree memiliki tiga lapis struktur, yang dimulai dari  kelompok lingkungan sekitar (NHG- neighbourhood group). Setiap kelompok ini terdiri dari 10-20 orang perempuan, masing-masing NHG ini dipimpin oleh perwakilan terpilih dan mengadakan pertemuan mingguan dimana perempuan membahas isu dalam komunitas mereka. NHG seringkali menjadi pencerahan pertama di luar rumah. Seperti yang saya dengar berulang-ulang dari para anggota, melalui partisipasi ini mereka mengalami transformasi dari seorang istri yang pendiam dan diabaikan menjadi anggota yang vokal dalam komunitas mereka. Umumnya, anggota pertanian kolektif berasal dari NHG. Relasi solidaritas yang telah ada memperkuat pengambilan keputusan dalam kolektif. Sebagai contoh, keputusan-keputusan seperti berapa surplus kolektif yang akan dijual, berapa yang dikonsumsi, anggota mana yang perlu bantuan makanan, berapa keuntungan yang bisa didapat semuanya disampaikan melalui relasi solidaritas ketimbang lebih dari sekedar ‘pembukuan keuntungan’.

Seluruh NHG menjadi satu perwalian berfederasi dalam ADS-Area pembangunan masyarakat (Area Development society) yang juga dipimpin oleh petugas pembawa pesan yang dipilih yang mewakili NHG. ADS kemudian berfederasi di tingkat Pachayat/kotamadya untuk membentuk komunitas pembangunan masyarakat (CDS-Community Development Society) CDS yang menjadi struktur perwakilan di jaringan NHG yang luas di tingkat Gramma (desa) Panchayat/ daerah kotamadya. CDS bekerja dalam hubungan erat dengan pemerintah lokal dan bertugas baik sebagai penyebaran alat untuk program-program pemerintah maupun pengucap kebutuhan komunitas dalam isu-isu pemerintahan.

Peran ganda – menyampaikan program program dan sumberdaya pemerintah kepada komunitas sekaligus menyampaikan kebutuhan komunitas kepada pemerintah terutama pemerintah lokal menjadi ciri utama dari Kudumbashree. Hal tersebut berasal dari akar Kudumbashree pada kampanye perencanaan rakyat untuk desentralisasi yang diprakarsai oleh pemerintahan Kerala di tahun 1996. Kampanye tersebut memiliki dua ciri utama : untuk memindahkan sebagian keuangan negara kepada pemerintahan lokal yang kemudian bisa digunakan untuk kepentingan pembangunan; dan kedua, upaya massif untuk membuka proses perencanaan untuk partisipasi komunitas. Langkah ini mentransformasikan desentralisasi dari hanya sekedar tindakan adminstratif menjadi gerakan sosial.[1] di tahun 1998, Kudumbashree pertama kali dluncukan agar rakyat bisa lebih berpartisipasi dalam pembangunan lokal. Visinya adalah Kudumbashree menjadi suara komunitas pada pemerintahan lokal yang mandiri-terutama menyuarakan perempuan yang lemah secara ekonomi dan sosial. 

Sejarah ini, serta pertalian yang erat antara negara dengan komunitas telah berkembang, jelas membantah klaim neoliberal bahwa pembangunan yang paling baik hanya dilakukan oleh komunitas saja, dan negara hanya lah menjadi hambatan. Inisiatif usaha pertanian yang luas menunjukan betapa ketika visi kebijakan berakar dari realitas lokal bisa menjadi ‘milik’ orang yang hidupnya dipengaruhi olehnya. Bukan model anti –negara secara individu bukan pula model negara terpimpin dari atas ke bawah yang menggerakan rasa kepemilikan ini.  Meski gagasan usaha pertanian ini telah mencuat pada pertemuan-pertemuan panchayat dan CDC tidak ada keputusan tanpa diskusi luas di tingkat kelompok-kelompok di lingkungan sekitar. Keputusan utama dalam produksi seluruhnya diambil oleh para petani dengan beragam dukungan dan insentif dari institusi-institusi publik.

Apa yang hendak disampaikan dari semua hal tersebut terkait kebijakan ketahanan pangan? Satu, kebijakan ketahanan pangan ini memerlukan seluruh hubungan sosial. Ketahanan pangan tidak bisa ditentukan semata-mata oleh seorang teknokrat yang terisolasi dari relasi-relasi ini. Inilah sebabnya mengapa banyak perjuangan sosial menolak seluruh gagasan ketahanan pangan – dan sebagai gantinya bicara tentang kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan berjuang untuk transformasi fundamental di bidang hubungan sosial mengurusi produksi dan konsumsi pangan.

Kedua, meski struktur komunitas Kudumbashree menyediakan landasan kokoh untuk berporos pada rakyat, pelaksanaan ketahanan pangan secara inklusif; material tetap menjadi hambatan utama. Tanah, contohnya, tetap menjadi hambatan utama. Saat ini, petani Kudumbashree tidak memiliki tanah, tetapi menyewanya. Mereka khawatir akan sewa. Bagaimana jika sewa mereka dicabut setelah mereka menempatkan buruh maupun investasi untuk meremajakan 100 acre lahan tandus? Mendapatkan dana juga tetap menjadi sebuah tantangan. Sementara mereka lebih memilih metode pertanian organik, kurangnya benih organik dan bebas bahan kimia – menjadi hambatan serius. Yang menarik, mereka tampaknya percaya diri dengan permintaan terhadap produk mereka ini, kepercayaan diri ini lahir dari bukti-bukti. Permintaan ini didorong atas reputasi mereka di komunitas lokal serta elaborasi jaringan pasar komunitas yang telah dikembangkan Kudumbashree selama bertahun-tahun.

Apakah eksperimen ini bisa dipertahankan atau diperluas? Hanya jika penekanan pada dimensi kolektif dan ikatan negara bagian dan komunitas tetap dipertahankan. Dimensi-dimensi inilah yang membedakan Kudumbashree dari gaya mikrokredit Grameen atau program pertambahan pemasukan secara individu dan mendekatkannya kepada misi kedaulatan produsen dan penguatan yang diusung oleh banyak gerakan sosial.

Ananya Mukherjee-Reed adalah seorang professor bidang ilmu politik, studi pembangunan dan pemikiran sosial politik di Universtas York, Canada. Artikel ini pertama kali muncul dalam dua bagian di website OneWorld Asia Selatan <southasia.oneworld.neort>.

Tulisan ini diterjemahkan dari versi yang dipublikasikan ulang dalam Third World Resurgence no 242/243 (Edisi Oktober/November 2010)

Catatan penerjemah :

·          Dalit dalam sistem kasta di India adalah seorang yang biasanya diharamkan untuk disentuh. Mereka juga dikenal sebagai kaum tak berkasta. Kaum dalit secara historis telah dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun kecuali pekerjaan-pekerjaan yang paling rendah.

·          1 akre = 0.4646 hektar



[1] Ramakumar R, Nair KN. 2009. State, politics and civil society: A note on the experience of Kerala. In: Geiser U, Rist S, editors. Decentralisation Meets Lokal Complexity: Lokal Struggles, State Decentralisation and Access to Natural Resources in South Asia and Latin America.Perspectives of the Swiss National Centre of Competence in Research (NCCR) North-South, University of Bern, Vol. 4. Bern: Geographica Bernensia, pp 275-310.