Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan didopsi di tengah-tengah Perbedaan
Monday, 01 September 2014

[Bhumika Muchhala dan Ranja Sengupta – New York AS] Serangkaian 17 Tujuan–tujuan Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development goals / SDG) telah diadopsi setelah satu setengah tahun didiskusikan dan dirundingkan.

Kelompok Kerja Terbuka (OWG-The Open Working Group) tentang Pembangunan Berkelanjutan menyimpulkan pada sesi ke tigabelasnya (14-19 Juli) di Markas Besar Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York Amerika Serikat. Perundingan panjang dilakukan hingga larut malam 18 Juli, sebelum akhirnya menghasilkan pengadopsian dokumen akhir pada Sabtu Sore tanggal 19 Juli.

Setelah enam hari perselisihan setajam silet antar negara-negara anggota terhadap beragam tema dan bahasa seluruh 17 Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, co-chairs (ketua sidang), Duta Besar Macharia Kamau dari Kenya dan Csaba Korosi dari Hungaria, gugup akan capaian kesepakatan dari anggota-anggota Kelompok Kerja Terbuka.

(Dalam berbagai sidang internasional, seringkali dipimpin oleh lebih dari satu orang ketua sidang yang di sebut  Co-Chairs)

Kelompok Kerja terbuka terdiri dari 70 negara yang berbicara atas nama negara sendiri maupun sebagai bagian dari kelompok-kelompok.

Naskah Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diadopsi terdiri dari seperangkat 17 tujuan yang mengukur 3 pilar pembangunan berkelanjutan, yakni ranah isu-isu ekonomi, sosial, lingkungan.

Tiap tujuan disertai dengan seperangkat target dan Langkah-Langkah Implementasi (MOI -means of implementation). Salah satu tujuan adalah sebuah tujuan tujuan tematis Langkah-Langkah Implementasi dibagi dalam ranah struktural perdagangan, keuangan, teknologi, pembangunan kapasitas, kemitraan beragam pemegang kepentingan dan data, pengawasan dan akuntabilitas.

16 tujuan lain merupakan isu-isu fundamental dalam ekonomi, sosial, lingkungan, politik, sebagai berikut:

1)    Mengakhiri Kemiskinan dalam segala bentuk di semua tempat;

2)    Mengakhiri kelaparan, mencapai keamanan pangan dan peningkatan nustrisi dan meningkatkan pertanian berkelanjutan;

3)    Memastikan hidup sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di semua usia;

4)    Menjamin pendidikan berkualitas yang adil dan inklusif dan meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang;

5)    Mencapai kesetaraan gender dan memperkuat semua perempuan dan anak perempuan;

6)    Menjamin ketersediaan dan keberlangsungan pengelolaan air dan sanitasi untuk semua;

7)    Menjamin akses untuk energi modern yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan bagi semua orang;

8)    Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif dan bertahan, lapangan pekerjaan yang menyeluruh dan produktif dan kerja layak bagi semua;

9)    Membangun infrastruktur yang berdaya tahan, meningkantkan industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi;

10) mengurangi ketidaksetaraan di dalam dan antar negara;

11) menjadikan kota-kota, pemukiman rakyat inklusif, aman, berdaya tahan  dan berkelanjutan;

12) Menjamin pola-pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan;

13) Melakukan aksi mendesak untuk memerangi perubahan iklim serta dampaknya (dengan kata-kata berikut mendahului target: "mengakui bahwa UNFCC adalah forum internasional utama untuk merundingkan respon global untuk perubahan iklim  ...");

14) Pemanfaatan lautan, laut dan sumberdaya kelautan secara lestari dan berkelanjutan demi pembangunan berkelanjutan;

15) Melindungi, memulihkan dan meningkatkan pemanfaatan ekosistem bumi, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi pengurunan dan menghentikan serta melestarikan degradasi lahan dan menghentikan hilangnya keragaman hayati;

16) Meningkatkan masyarakat yang adil dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi semua dan membangun institusi-institusi yang efektif dan akuntabel di semua tingkat

 (Naskah tersebut dapat di akses pada http://sustainabledevelopment.un.org/focussdgs.html)

Langkah berikutnya dari naskah ini akan dipresentasikan pada Sidang Umum di bulan September, setelah perundingan-perundingan antarpemerintah diantara negara-negara anggota PBB yang akan diselenggarakan dalam konteks agenda pembangunan Pasca-2015, dengan naskah saat ini menjadi landasan mulai bekerja.

Agenda Pembangunan Pasca-2015 adalah penganti Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium dan akan menjadi pola resmi global yang menginformasikan kebijakan pembangunan internasional, dan dalam beberapa hal perencanaan pembangunan nasional.

Debat Memanas pada Beberapa Isu-isu

Pengumuman adopsi akhir naskah oleh Ketua sidang lebih merupakan momen terobosan yang menyimpulkan sebuah medan pertempuran menegangkan dari posisi-posisi yang saling bertikai antara negara-negara anggota. Reaksi negara-negara anggota terhadap naskah akir Tujuan Pembangunan berkelanjutan terbagi menjadi garis patahan yang dikenal sangat panjang

Kelompok G77 dan Cina, yang terdiri dari 131 negara-negara berkembang, bertahan pada posisi mereka bahwa kemendesakan bahasa tentang kolonialisme dan pendudukan asing harus disertakan, tidak hanya pada pembukaan (narasi pengenalan Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), tapi juga sebagai target dalam tujuan 16 tentang perdamaian dan keadilan.

Bahasa spesifik yang mereka minta adalah :”Rio+20 mengingatkan kembali komitmen untuk mengambil langkah dan tindakan selanjutnya yang lebih efektif, sesuai dengan hukum internasional, untuk menghapuskan rintangan-rintangan atas realisasi sepenuhnya hak untuk menentukan nasib sendiri dari rakyat yang hidup di bawah kekuasaan kolonial dan penjajahan  asing, yang terus memberikan dampak merugikan bagi pembangunan dan ekonomi mereka serta lingkungan mereka, yang tidak sesuai dengan kedaulatan dan nilai kemanusian seseorang harus diperangi dan dihapuskan”.

Sementara, banyak negara-negara Arab, Persia dan Afrika, termasuk negara-negara Afrika Utara, lantang menentang target khusus yang meminta menjamin, ”akses universal untuk kesehatan seksual dan reproduksi dan hak reproduski seperti yang disepakati sesuai dengan Program Aksi Konferensi Internasional tentang Populasi dan Pembangunan dan Platform Beijing untuk aksi dan dokumen-dokumen hasil kajian konferensi-konferensi mereka.”

Seperti yang diperkirakan, sebagian negara-negara Barat/Utara dan beberapa negara-negara berkembang mendukung pencantuman perdebatan hak-hak reproduksi, sementara negara-negara utama barat tegas menentang pencantum okupasi asing menjadi sebuah target.

Naskah Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terakhir dan yang diadopsi saat ini mencantumkan hak-hak reproduksi dalam target 5.6 dan penjajahan  asing pada paragrap 15 pembukaan.

Ketidakpuasan juga disampaikan oleh negara-negara anggota tentang luasnya susunan isu dalam dokumen akhir, mulai dari isi dan ruang lingkup tema-tema Langkah-Langkah Implementasi (MOI) hingga bahasa tentang lautan, referensi kepada kajian referensi-referensi PBB, kekurangan dan kelemahan target-target MOI yang mengkhususkan pada tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan, penyertaan tanggungjawab yang sama namun dibedakan (Common but Differentiated Responsibilities-CBDR),dan pertempuran tak berkesudahan terhadap perselisihan tujuan-tujuan seperti kedamaian dan keadilan, produksi dan konsumsi yang berkelanjutan serta perubahan iklim.

Namun, kenyataan terlepas dari ketidak puasan yang luas, bahwa berlimpahnya keinginan negara-negara anggota memutuskan untuk mengunci kesepakatan pada naskah akhir,  dipandang sebagai capaian yang penting.

Pendiskusian  kembali naskah tersebut akan menjadi sangat rumit, penuh dengan proses yang memakan waktu sehingga wakil ketua sidang tentu tidak akan mampu.

Hasilnya sudah bisa dipastikan; negara-negara anggota sendiri takut memikirkan perluasan dari proses sudah panjang yang telah mereka ikuti.

India meyakinkan Ketua sidang bahwa dalam hal perbedaan mendalam antara negara-negara anggota, secara menyeluruh sudah merupakan hasil yang bagus, serta “rumit dengan hal-hal yang sangat kita sukai maupun hal yang sangat tidak kita sukai.”

Negara-negara seperti Kolombia menyimpulkan bahwa “ini adalah paket kesepakatan yang berharga untuk disetujui, bahkan jika di paket tersebut ada yang tidak kita suka,” sementara Romania menegaskan bahwa “proses ini telah melelahkan di akhirnya. Naskah dihadapan kita tidak perlu diperbincangkan kembali, dan kita semua mesti mengadopsi dokumen ini dan menyerahkannya kepada Dewan Umum.”

Ethiopia menyimpulkan jiwa dari mayoritas negara-negara anggota, dengan mengatakan bahwa meski mereka telah “tidak sepenuhnya puas, dalam semangant memberi dan menerima, mereka akan melanjutkan dengan naskah akhir yang diusulkan oleh wakil ketua sidang” +

Diterjemahkan dari judul United Nations: Sustainable development goals adopted amidst difference  yang dimuat dalam SUNS Edisi #7849 Selasa 22 Juli 2014.