Revolusi Hijau Afrika yang Menggulirkan Revolusi Genetik (1)
Friday, 29 May 2009

(Mariam Mayet* – Afrika Selatan) - 'Revolusi hijau baru di Afrika', yang ramai dibicarakan tahun 1990-an, kembali digalakkan sejak dua setengah tahun lalu, ketika Rockefeller dan Bill dan Melinda Gates Foundation meluncurkan Aliansi untuk revolusi hijau di Afrika (AGRA - Alliance for a Green Revolution in Africa)1.

Walaupun AGRA tidak memasukkan tanaman-tanaman rekayasa genetik (transgenic-GMOs genetically modified organism) dalam proyeknya, keberadaan perusahaan dan teknologi di bidang rekayasa genetik yang berada seputar proyek revolusi hijau itu seperti mimpi buruk.

Jutaan dolar telah dikeluarkan untuk mendanai para pelaku terpilih untuk membuat kerja dasar industrialisasi pertanian dan penciptaan pasar agribisnis untuk perusahaan raksasa di Afrika.  Para pelaku AGRA ini termasuk kelompok-kelompok dari Amerika Serikat seperti Jaringan Masyarakat untuk Urusan Luar Negeri (CNFA/Citizens Network for Foreign Affairs) dan Pusat Pengembangan Pupuk Internasional (IFDC/International Fertiliser Development Centre). Kedua kelompok ini adalah perusahaan yang berhasil menangkap kepentingan perusahaan seperti Syngenta Crop Protection, Dow AgroSciences, Bayer CropScience, Du Pont Crop Protection dan Monsanto dibawah proyek-proyek AGRA di negara-negara Afrika terpilih.

Tidak kalah pentingnya untuk menghubungkan besarnya jumlah uang tunai yang masuk ke dalam kas 'revolusi hijau', dengan mengalirnya suntikan dana yang besar dari Gates Foundation ke dalam proyek-proyek biosafety (keamanan hayati) di Afrika. Penerima manfaat dari hibah besar biosafety dari Gates Foundation adalah semua yang terhubung langsung dengan, atau didanai oleh industri bioteknologi. Proyek-proyek ini secara strategis menghindari promosi tanaman transgenik yang sedang diproduksi komersial, dan malah fokus pada ‘potongan kecil dari langit’ seperti makanan biofortifikasi dan tanaman tahan kekeringan yang 'ramah iklim'. Hal ini dilakukan untuk memenangkan hati dan pikiran warga Afrika, sambil menyusun jalan bagi para raksasa genetika ini untuk mendapatkan pijakan yang lebih kuat dan terhormat di Afrika

Uang yang digelontorkan ke Afrika dari Gates Foundation digunakan untuk mengantar dua revolusi di pertanian Afrika secara bersamaan, satu berdasarkan revolusi hijau klasik Asia dan Amerika Latin, dan yang lainnya berdasarkan teknologi transgenik. Setelah semua itu, maka pembuat keuntungan dalam kedua skenario tersebut mempunyai tujuan pemikiran yang satu dan sama, yaitu, pengembangan  model pertanian yang berdasarkan dominasi agro-ekspor, perdagangan bebas, dan penggunaan bahan intensif kimia besar-besaran monokultur dan organisme rekayasa genetika (GMOs).

Inti dari revolusi hijau di Afrika

Wacana revolusi hijau Afrika mendefinisikan kemiskinan pedesaan sebagai ketidak cukupan produktivitas, diperlukan teknologi yang 'memperbaiki' terdiri dari varietas unggul (HYVs/high-yielding varieties), benih yang dibuat secara genetik dan memberikan nafas baru pada pemakaian bahan kimia secara besar-besaran2. Dengan demikian, revolusi hijau di Afrika didorong oleh keinginan untuk mentransformasikan pertanian menjadi sektor yang dinamis dengan penekanan pada tanaman pangan ekspor dan integrasi petani dan produsen kecil ke dalam ekonomi global.3

Ideologi ini telah mendapat pengesahan dari Uni Afrika, dan disebarluaskan melalui Kemitraan Baru untuk Pengembangan Afrika (NEPAD/New Partnership for Africa's Development) melalui Program Pengembangan Pertanian Afrika Menyeluruh (CAADP/Comprehensive Africa Agriculture Development Programme)4, dan kerangka kerja untuk Produktivitas Pertanian Afrika (FAAP/Framework for African Agricultural Productivity). Para kepala negara di Afrika, dengan berbagai cara, juga berada di balik seruan revolusi hijau sebagai prasyarat yang diperlukan untuk mempercepat produktivitas pertanian dalam menangani kemiskinan dan kelaparan di Afrika5.

AGRA, dengan jutaan dananya, sangat mendukung ideologi revolusi hijau, dan pura-pura membantu jutaan petani kecil terbebas dari kemiskinan dan kelaparan dengan mendorong secara signifikan produktivitas pertanian melalui teknologi revolusi hijaunya.

Ketua AGRA adalah mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan. Anggota dewan AGRA banyak didatangkan dari Rockefeller Foundation, Gates Foundation, Intitusi Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI / International Food Policy Research Institute), orang-orang yang berhubungan erat dengan kelompok Konsultatif Penelitian Pertanian Internasional (CGIAR / Consultative Group on International Agricultural Research) dan sektor korporat di Afrika Selatan. Anggota dewan AGRA termasuk Monty Jones, Sekretaris Eksekutif dari Forum Penelitian Pertanian di Afrika (FARA / Forum for Agricultural Research in Africa). Dr Jones adalah orang Afrika yang pertama yang memenangkan Penghargaan Pangan Dunia (World Food Prize) pada tahun 2004 atas peran pentingnya dalam penelitian dan pengembangan NERICA, 'Padi Baru untuk Afrika', tanaman utama dalam mendorong revolusi hijau di Afrika. Dr Jones melakukan penelitian saat itu berbasis pada Program Pemuliaan Padi Dataran Tinggi (Upland Rice Breeding Programme)7 pada Asosiasi Pengembangan Padi Afrika Barat (West Africa Rice Development Association) (sekarang Pusat Beras Afrika) (WARDA). Pada tahun 2007, Jones terpilih sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh oleh majalah Time. anggota dewan lain yang berpengaruh adalah Mamphela Ramphele, saat ini adalah Ketua Eksekutif Circle Ventures, sebuah perusahaan pemberdayaan ekonomi kulit hitam, dan mantan direktur pengelolaan Bank Dunia selama 2000-2006. Salah satu staf utama AGRA adalah Joseph De Vries, yang merupakan Direktur program Sistem Benih Afrika milik AGRA (PASS / Program for Afrika Seed Systems). De Vries adalah veteran dari Rockefeller Foundation

Kekuatan keuangan yang cukup besar dan kekuatan politik yang dimiliki AGRA memberikan dukungan advokasi dan lobi di tingkat global, untuk mereformasi kebijakan global yang berhubungan dengan tingginya pajak dan tarif, dan membujuk masyarakat internasional untuk mendukung tujuan AGRA. Ini termasuk pemberian 'subsidi pintar' untuk memungkinkan petani miskin menggunakan revolusi hijau yang baru dan teknologi gen, serta eksternal input seperti agrokimia dan dan pupuk anorganik. Saat ini, sudah ada dukungan yang kuat dari Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD/International Fund for Agricultural Development) untuk program 'subsidi pintar ' dalam memberikan akses pupuk kepada petani miskin8. AGRA juga telah masuk ke dalam sebuah aliansi strategis dengan tiga lembaga PBB yang berbasis di Roma yaitu Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO/Food and Agriculture Organization), IFAD dan Program Pangan Dunia (WFP/World Food Programme)9 - dalam tawaran untuk menghubungkan pasar revolusi hijau dengan bantuan pangan untuk warga Afrika yang kelaparan.

Memfasilitasi masuknya raksasa genetika ke Afrika

Selama tahun 2008, website AGRA menampilkan ‘daftar pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan' yang mencatat bahwa 'pengenalan tanaman rekayasa genetik bukan bagian dari strategi Aliansi .. pada saat yang sama, aliansi tersebut tidak akan menjauhkan diri untuk mempertimbangkan potensi bioteknologi dalam mengurangi kelaparan dan kemiskinan. Saat ini, bagaimanapun, masih terbatasnya kapasitas antara pemulia tanaman di Afrika, dan yang terbaik digunakan dalam pencarian pengembangan verietas tanaman secara konvensional.10 Dalam pernyataannya mengenai Pemuliaan Tanaman dan Rekayasa Genetik', menyatakan sebagai berikut: ‘AGRA saat ini tidak mendanai pengembangan varietas baru melalui penggunaan rekayasa genetik.’11

Penyelidikan hati-hati atas ambivalensi AGRA mengungkapkan bahwa keputusan strategis oleh AGRA untuk tidak menggunakan teknologi GMOs, mungkin karena sangat sedikit negara di Afrika yang benar-benar memiliki sistem biosafety yang berfungsi untuk menyetujui pembudidayaan dan perbanyakan tanaman GMOs. Memang, beberapa negara termasuk Mali dan Kenya telah menunda pengumuman perundang-undangan mengenai biosafety yang kontroversial dalam menghadapi meluasnya oposisi dari kelompok-kelompok masyarakat sipil di beberapa negara.12 Demikian pula, banyak negara Afrika yang kekurangan infrastruktur hukum yang sesuai untuk melindungi rejim hak kekayaan intelektual (HKI) bagi penyebaran benih rekayasa genetik.

Namun demikian, penting dicatat bahwa  pada tanggal 16 Januari 2009, AGRA menandatangani perjanjian lima tahun dengan Jeffrey Sachs' Earth Institut di Universitas Columbia yang bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebijakan yang terbaik untuk mengembangkan pertanian secara berkelanjutan bagi petani-petani Afrika.13 Sachs merupakan pendukung yang bersemangat pada penggunaan tanaman GMO di negara-negara berkembang, dan percaya bahwa hal tersebut sangat menjanjikan bagi kelangsungan hidup petani di negara-negara berkembang karena teknologinya disajikan dalam bentuk benih14

Fokus utama AGRA adalah pada pemuliaan tanaman, dengan ambisi target lima tahun yang ditetapkan untuk mengembangkan 100 varietas baru tanaman pokok seperti jagung, ubi kayu, sorghum dan millet (sejenis juwawut), namun bagaimanapun, program pengembangan Agro-Dealer AGRA ini sangat penting dan perlu untuk diteliti dengan cermat. Singkatnya, program tersebut menyediakan pelatihan, modal dan kredit untuk pembangunan agro-dealer kecil yang terdiri dari penyalur benih, pupuk, bahan-bahan kimia dan pengetahuan bagi petani penggarap. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan petani. AGRA membanggakan bahwa bukan pekerjaan yang mudah untuk mewujudkan sistem pengiriman yang khusus untuk masyarakat pedesaan, di mana petani dapat 'berjalan ke toko atau kios dihalaman mereka dan dengan mudah mendapatkan akses pada benih berkualitas tinggi. Namun demikian, faktanya adalah pembuatan keseluruhan rantai nilai dari ’input ke pasar’ yang akan menapak jalan ke arah perkembangan sektor swasta baru pedesaan, pemrosesan produk pertanian dan eksportir yang akan mengontrak para petani untuk memproduksi tanaman bagi mereka.

Sebagai langkah pertama dalam meletakkan skema agro-dealernya untuk menjual benih, pestisida, dan pupuk pada petani miskin di Afrika, AGRA menghadiahkan lebih dari 15 juta dolar untuk LSM AS, CNFA untuk membangun kerja dasar.16 CNFA dipimpin oleh John Costello yang sangat sukses dan berpengalaman dalam mempromosikan kepentingan perusahaan Amerika Serikat di seluruh dunia. Sebagai contoh, selama tahun 2000, Costello telah memimpin  misi 15 anggota ke Kuba yang terdiri atas pejabat dari Archer Daniel Midland, Monsanto dan Dow AgroSciences dalam tawar menawar untuk menekan Washington agar mengakhiri sanksi perdagangannya terhadap Kuba.

Berkomentar pada program agro-dealer selama bulan November 2008, Costello mengatakan 'Dengan bangunan komersial, jaringan berbasis perusahaan yang dapat memberikan masukan dan teknologi untuk ribuan petani pedesaan, kemitraan CNFA/AGRA akan mulai membangun infrastruktur ekonomi pedesaan, sehingga , seiring waktu, dapat meningkatkan pendapatan pedesaan dengan memperluas hubungan terhadap input penting, teknologi dan pasar'18 .Memang benar, pada bulan Oktober 2008, CNFA milik Costello bergabung dengan Croplife Foundation dan mengumumkan bahwa mereka akan memanfaatkan jaringan agro-dealer yang didanai AGRA, yang terdiri dari 1.500 agro-dealer di Kenya dan Malawi, untuk membuktikan potensi agro-kimia.19 CNFA membawa dukungan teknis dan keuangan untuk proyek-proyek dari Syngenta Crop Protection, Dow AgroSciences, Bayer CropScience, Du Pont Crop Protection dan Monsanto Crop Protection.  

Pelaku strategis lainnya dalam skema agro-dealer AGRA adalah IFDC, menerima sekitar 6 juta dolar dari brangkas AGRA. Melanjutkan kepemimpinan CNFA, IFDC juga telah bekerja sama dengan Croplife International. Yang secara bersama-sama menunjukkan kepada petani-petani di Mozambik ‘bagaimana menggunakan lebih banyak pupuk dan input lainnya .. untuk mempercepat transisi mereka dari pertanian subsisten menuju pertanian yang komersial, berkualitas dan pemasaran produksi jagung.20

Jelas bahwa skema agro-dealer AGRA tidak lebih dari mesin yang dipersiapkan matang untuk memungkinkan perusahaan-perusahaan agro-kimia besar, yang juga  memproduksi bibit GMOs, untuk memperoleh pijakan yang kuat di sistem pertanian Afrika. (Bersambung).

Mariam Mayet adalah pendiri dan direktur Pusat Keamanan Hayati Afrika (the African Centre for Biosafety) di Afrika Selatan.

Tulisan edisi bahasa Inggris yang berjudul ‘Africa's Green Revolution rolls out the Gene Revolution’ oleh penulis yang sama telah diterbitkan dalam Third World Resurgence No. 223 (Maret 2009).

Catatan Kaki:

1        Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) adalah Yayasan yang berdasarkan  hibah/sumbangan yang didirikan pada tahun 2000, melalui merjer antara Gates Learning Foundation dengan William H. Gates Foundation. Saat ini,  Gates Foundation adalah yayasan yang terbesar di dunia.  http://www.gatesfoundation.org/about/Pages/foundation-timeline.aspx.

2        Suliman, M. (1999). Ekologi, Politik dan Konflik Kekerasan (Ecology, Politics and Violent Conflict). London: Zed Books, halaman  16-17.

3        Bernstein, H. (tanpa tahun). Reforma Agraria Setelah Pembangunanisme? Konferensi Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan: Pengumpulan Pandangan (Agrarian Reform' after Developmentalism? Conference on Agrarian Reform and Rural Development: Taking Stock). Social Research Center, American University Kairo.

4        NEPAD (July 2003). Pengembangan Pertanian Komprehensif Afrika (Comprehensive Africa Agriculture Development Programme). http://www.nepad.org/2005/files/documents/caadp.pdf (diakses 20 Februari 2009).

5        Untuk contoh, lihat Njini, F. (11 Februari 2009). Menteri-menteri Afrika mengadopsi Strategi revolusi hijau (Ministers adopt Green Revolution strategy). Panapress. http://www.panapress.com/freenews.asp?code=eng010463&dte=11%2F02%2F2009 (accessed 28 February 2009).

6        Situs AGRA - Alliance for a Green Revolution in Africa.  http://www.agra-alliance.org (diakses 20 February 2009).

7        Lihat situs AGRA http://www.agra-alliance.org.

8        Bage, L. (June 2006). Pernyataan oleh Lennart Bage, Presiden IFAD, dalam sessi Kepala Negara, Africa Fertilizer Summit yang diadakan di Abuja, Nigeria dari 9-13 Juni 2006. http://www.ifad.org/events/op/2006/fertilizer.htm (diakses 20 Februari 2009).

9        Memorandum of understanding (MOU) antara FAO, IFAD, WFP dan  the Alliance for a Green Revolution in Africa (AGRA) ditandatangani di Roma, 4 Juni  2008. http://www.ifad.org/gbdocs/eb/94/e/EB-2008-94-R-37.pdf (diakses 20 Februari 2009).

10    AGRA. http://www.agra-alliance.org/about/faq.html (diakses pada September 2008).

11    AGRA. http://www.agra-alliance.org/section/about/genetik_engineering (diakses pada September 2008).

12    Moola, S & Munnik, V. (2007). GMO di Afrika: Laporan Status Pangan dan Pertanian 2007 (GMOs in Africa: food and agriculture status report 2007). African Centre for Biosafety. Dalam Keamanan Hayati, Politik Hayati dan Pencurian Hayati (Biosafety, Biopolitics and Biopiracy) Seri 4. [Rancangan Undang-undang Keamanan Hayati Kenya telah diluluskan oleh Parlemen pada Februari 2008].

13    Ooko, D. (16 Januari 2009). AGRA, Earth Institute menandatangani kesepakatan untuk revolusi hijau ang lebih lanjut di Afrika (Earth Institute sign deal to advance African green revolution). http://news.xinhuanet.com/english/2009-01/16/content_10669838.htm (diakses 20 Februari 2009).

14    Monsanto Company. (2006). PErcakapan mengenai Pabrik Biotek. Jeffrey Sachs Mendukung Penggunaan luas tanaman trasngenik di Negara-negara berkembang (Conversations about Plant Biotech. Jeffrey Sachs supports expanded use of genetikally modified crops in developing countries). http://www.monsanto.com/biotech-gmo/asp/experts.asp?id=JeffreySachs. (diakses 20 Februari 2009).

15    Odhimabo, A. (2 Oktober 2007). AGRA takes Certified Seeds to Farmers in War on Hunger. Business Day, Nairobi.

16    Situs AGRA. http://www.agra-alliance.org/section/about/grants (diakses 20 Februari 2009).

17    Fletcher, P. (12 January 2000). Mantan pejabat kabinet Reagan mendukung perdagangan dengan Kuba (Ex Reagan cabinet official backs trade with Cuba). Reuters. http://www.cubanet.org/CNews/y00/jan00/13e5.htm (diakses pada 20 Februari 2009).

18    AGRA. (15 November 2008). 995.000 Keluarga Mali memanfaatkan peluncuran jaringan agro-dealer yang dibuat untuk membawa alat-alat pertanian yang esensial ke petani pedesaan (995,000 Malian Families to benefit from Agro-dealer network launch set to bring Essential Farm Supplies to Rural Farmers). www.agra-alliance.org/content/news/detail/886 (diakses 20 Februari 2009).

19    Rilis Media Croplife Foundation. (14 Oktober 2008). Croplife Foundation Memamerkan Pentingnya teknologi perlindungan tanaman dalam memperbaiki pertanian Afrika di kegiatan penghargaan pangan dunia (Croplife Foundation to Demonstrate Value of Crop Protection Technology in Improving African Agriculture at World Food Prize Event). http://www.croplifefoundation.org/Africa/CLF_CNFA_Press_Release.pdf (diakses 20 Februari 2009).

20    International Potash Institute. Proyek Intensifikasi Jagung di Mozambik (Maize Intensification in Mozambique (MIM) Project). http://www.ipipotash.org/regional.php?reg=8 (diakses 20 Februari 2009).